Tampilkan postingan dengan label Manado. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manado. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Agustus 2015

Saat Mahasiswa HIMPY Melaksanakan Penerimaan Anggota Baru


Manado-Imipasulut.blogspot.com- 8/8/2015 Himpunan  Pelajar dan mahasiswa Yalimo (HIPMY) Telah melaksanakan Penerimaan Anggota Baru dari tanggal 6 dan 8 di Asrama Kamasan VIII Tomohon.


Dalam kegiatan peneriaman ini dilaksanakan pada hari yang berbeda dengan hari pertama pada tanggal 6 di fokuskan untuk Memberikan Materi di Asrama Yalimo dan Kemudian untuk tanggal 8 Agustus 2015 Melaksanakan Kegiatan Ibadah dan sekaligus menerima Anggota Secara Organisasi Oleh Pembina, Pengarah dan Badan Pengurus HIPMY.
Dalam Kegiatan Ibadah Penerimaan Anggota Baru Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Yalimo, ini dihadiri dari beberapa Kota Study Tondano, Manado, Kairagi Polik dan Tomohon, yang ada di sulawesi Utara, dengan Jumlah yang hadir 120 Orang.
Thema        : “ Diluar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” Yohanes 15: 5
SubThema : Melalui Penerimaan dan Pembinaan Anggota Baru HIPMY ini, Anggota yang akan diterima mampu beradaptasi, Bersaing, Bertanggung Jawab dalam Dunia Kampus, Organisasi dan di Manapun Berada.
Ibadah Dipinpin Langsung Oleh Pdt. Otni Yarengga, Dibawakan Firman Tuhan dari Thema yang sudah ditetapkan Oleh Panitia “ Diluar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” dalam Kitab Yohanes 15: 5.
Segala Sesuatu yang kita pikirkan sebelum itu Ingatlah dahulu kepada Tuhan Karena Kami selalu Membutuhkan Tuhan Allah lebih dari pada Lain-lain. Karena Segala sesuatu hanya Dia Oleh Dia sepanjang hidup sampai Kematian. Ada Filosophy Diantaranya Jari.
Jari Jempol Menandakan kepada kehebatan pada seseorang, Yang Berbuat Benar atau baik dan sebagainya.

Kemudian Jari Telunjuk digunakan untuk menunjuk sesuatu, yang baik atau tidak baik. Kemudian untuk Jari Tengah karena Ia Ditengah sehingga Muncullah Kesombongan bahwa saya yang paling tinggi dari semuanya. Kemudian Jari Manis adalah jari dimana bisa dipasang Cincin sehingga disebut Manis karena ada Makotannya, Sedangkan Jari Kelingking adalah jari yang Paling terkecil dia antara Semuanya, dan Ia Merupakan Patut diargai karena Dia Termasuk tangan.
Maka diambil kesimpulan dari berbedaan Jari tetapi ia tetap disebut sebagai Tangan karena Ia ada Dalam Satu Kesatuan.
Tangan Ini Mengambarkan Perbedan Sifat dan Kareakter yang Berbeda-beda tetapi kami adalah Satu Kesatuan  dari Perbedaan yang ada. Sepintar apapun kita bisa puji dan hebat namun Suatu saat bisa Gagal tetapi kalau kita tinggal dalam Tuhan Hal itu tak akan terjadi kegagalan.
Maka  kami mahasiswa Papua yang ada di sulawesi Utara dan Khususnya Mahasiswa Yalimo, Kami adalah satu Kesatuan, Tidak ada perbedaan diantara Kami, dan terus tingkatkan Kebersamaan, Jelas Otni dalam Khotbahnya.

                  Berikut hasil wawancara kami dengan Ketua Panitia, Pengarah dan Ketua Rukun HIMPY,
Raimon Peyon, “ Saya Sebagai Ketua Panitia Penerimaan Anggota Baru HIPMY” saya Menyampaikan Terima Kasih Kepada Wadah Organisasi Sosial, Keminan serta Seluruh Mahasiswa Papua yang ada di Sulawesi Utara dan Secara Khusus kepada semua Anggota HIMPY yang mana telah Bekerja Keras, Walaupun dalam pembentukan Panitia ini tidak Lama karena Banyak terjadi masalah terhadap mahasiswa Papua kemarin, Tetapi Puji Tuhan Kegiatan ini bisa sukses dengan Baik karena Atas Campur Tangan dan Pertolonga Tuhan, dan Juga Atas Bantuan Baik Tenaga Maupun Dana dari Teman-teman Mahasiswa Papua Serta atas Usaha Kerja Keras Mahasiswa Yalimo sehingga Bisa sukses, Biarlah kiranya Tuhan yang punya berkat akan memberkati kita semua.

Thobias Yohame, “Sebagai Ketua Rukun HIMPY” Menagatakan bawha Pada Tahun Angkatan 2015 Ini walaupun anggota Baru hanya 2 Orang dan Jauh berbeda dari jumlah sebelumnya tetapi Semangat Perjuangan dan Kerja keras dari Anggota tidak Menerun, semangat terus ada sehingga kegiatan penerimaan ini bisa berjalan Baik Sesuai dengan Harapan Kami Semua. Inipun juga tidak terlepas dari Bantuan Saudara dan Saudari Sekalian, Ujarnya.

Tambah Thobias, Kami Melaksanakan Kegiatan Untuk Memberikan materi di asrama Yalimo kemudian kami melanjutkan di Asrama Kamasan VIII Tomohon, dengan tujuan untuk Mengkaderkan, Kami tidak dibatasi dan dilihat dari Jumlah Anggotanya tetapi kami Terima disini dengan Tujuan agar Bisa saling Mengenal di Banyak Orang karena mereka juga adalah Kader selanjut Untuk Papua dan Khususnya Kabupaten Yalimo Kedepan.

Harapan dari Ketua HIPMY bahwa khusus anggota baru jangan putus asa teteap semangat dan kami akan Men support untuk Generasi Berikutnya datang kuliah disini dengan semangat dan agar selanjutnya lebih baik dari sekarang.

Maikel Mabel, S. Kep “Yang Merupakan Sebagai Pengarah” Menyampaikan bahwa pelaksanakan Kegiatan ini juga tidak terlepas dari tanggung jawab dan arahan dari kami Pengarah. Kami terus berpesan kepada pengurus merangkap dengan Anggota serta Anggota Baru untuk tidak perlu dipertimbanga dengan situasi dan kondisi lagi karena Allah Berfirman bahwa sebab banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang dipilih,  maka itu mari melalui Organisasi ini dan kebersamaan Organisasi biasa ada dibawah Satu Honai Melalui Kebersamaan Organisasi dan kami tidak memisahkan antara satu dengan lain.
Kami melanjutkan Organisasi ini tidak bisa dipatokan dari Kekurang tetapi bagi siapa yang ingin bergabung mari bergabung melalui wadah IMIPA Besar atau Organisasi Masing-masing. Semoga bisa berperan aktif di Organisasi Masing-masing, dan tidak ada Perbedaan diantara Kami.

Hiskia Meage Sebagai Orang Tua Dan Ketua KNPB Konsulat Indonesia Tengah Menyapaikan dalam Sambutannya Berpesan Kepada Seluruh Mahasiwa Papua Dari Sorong Sampai Samarai Untuk Terus menjaga keamanan dan Kenyamana di Sulawesi Utara serta Terus Tingkatkan Kebersamaan, Karena Tidak ada Perbedaan diantara kami Orang Papua yag ada dan tak ada lagi Orang Tua kami akan datang bicara seperti ini, Jelasnya. Suara Pasema

  

Kamis, 30 April 2015

Intel Sedang Bertanya untuk Kegiatan 1 Mei 2015 Kepada Ketua KNPB Konsular Hiskia..


Manado, Suarapasema.blogspot.com --  Di Asrama Kamasan V Manado, 2 Orang Intel dari Satuan Polda Sulawesi Utara, Mereka Masuk dengan Tujuan apakah kegiatan 1 Mei 2015 akan Laksanakan atau tidak? Namun Kata Ketua KNPB Konsulat Indonesia Tengah Hiskia, Walaupun Tidak Disinkan Lakukan Aksi Demo Damai Di Kantor Gubernur tetapi Kami akan tetapi Lakukan tetapi beda dalam Bentuk Kegiatan karena hanya di Rumah.  Sebab Kami sudah Masukan Surat dengan Mengikuti Prosedur Namun tidak Menerima Kami dengan alasan tidak terdaftar di Kesbangpol Provinsi Sulawesi Utara dan Kesbangpol Papua, Sehingga Kami KNPB Konsulat Indonesia Tengah Pulang dengan Air Mata, Kenapa bisa memper Lakukan Kami Seperti ini, Ujar Hiskia. Hari Ini 30 April 2015, Jam 16.30 Wita dini Hari.

Hiskia Meage Juga Menambahkan, Minahasa sudah membesarkan kami, mendidik kami sehingga bisa bersuara untuk demi menyatakan keadilan dan kebenaran bagi kami Orang Papua, Tambahnya.

, Tujuan 2 Orang Intel masuk di Asrama Untuk tanyakan Kegiatan Besok, Memperingati Hari ANEKSASI WEST PAPUA, Namun Ketua KNPB Konsulat Indonesia Tengah  Hiskia Meage​, Mengatakan Bahwa, Kami akan Tetap Laksanakan Dalam Bentuk Ibadah dan Juga Sosialisasi Hasil ULMWP,  dengan Seluruh Undangan yang Kami Bagi Dari Arsama, Kontrakan, Dan Gubuk, dengan Jumlah Undangan Yang Kami Bagikan Yaitu 70 Surat Yang Kami Keluarkan, Maka Dengan Bentuk Gaya Kami akan Tetap Lakukan.

Dalam Rangka Memperingati Hari Aneksasi 1 Mei 1963 - 2015, Bangsa Papua Secara Paksa dan Ilegal Mengakui Bahwa Papua Masuk di NKRI. ujar Hiskia..



Berikut Foto-Foto dari Suara Pasema West Papua​/Lokon






Senin, 27 April 2015


Hiskia Meage Ketua UMUM KNPB KONSULAT sedang Membaca Kembali Surat  Pemberitahuan Yang Di Tolak

Manado-Suarapasema.blogspot.com-
 Hari ini KNPB Konsulat Melakukan Surat Izin Pemberitahuan  untuk Melakukan Aksi Damai Memperingati Hari Anesasi Bangsa Papua Barat pada 1 Mei 1963 - 2015,  Agar Kapolda Sulawesi Utara Melalui DIR. Intelkam Sulawesi Utara Untuk Menerbitkan surat izin turun Aksi, Namun Kapolda Sulut Menolak dengan Alasan Organisasi KNPB  Konsulat tidak terdaftar di KesbangPol Sulawesi Utara, Pada Hari senin ,27 April 2015 dini hari. 



Sehingga KNPB Konsulat hanya Menyampaikan terima kasih kepada Kepolisian Daerah Sulawesi Utara sebagai berikut:

TERIMAKASIH KAPOLDA SULAWESI UTARA
(Bapak. Brigjen Pol. Wilmar Marpaung)

Seluruh generasi baru baik Pemuda, Mahasiswa dan Masyarakat asal tanah Papua yang berada di bumi minahasa menyampaikan terimakasih yang tak terhingga melaui media rakyat, Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Konsulat Indonesia Tengah.

                Ucapan terimakasih ini di tunjukan kepada Yang Terhormat Bapak Brigjen Pol. Wilmar Marpaung selaku Kapolda Sulawesi Utara. seruan hati ini secara terbuka dapat disampaikan langsung oleh Frans Pekey selaku Koordinator aksi damai dan Hiskia Meage sebagai Ketua Umum Komite Nasional Papua Barat, konsulat Indonesia Tengah. Hal ini di sampaikan setelah surat pemberitahuan ijin aksi damai di tolak dari Kepolisian Daerah Sulawesi Utara, alasan penolakan aksi damai hanya masalah administrative yaitu karena organisasi KNPB belum terdaftar secara resmi di kesbangpol Sulawesi Utara. Itu sebabnya, tidak diberikan ijin untuk melaksanakan aksi damai secara terbuka di kota manguni.

                Aksi damai ini bermaksud dalam rangka Memperingati Hari Aneksasi 01 Mei 1963-2015. Atas Pencaplokan Tanah, Air, Udara Dan Manusia Yang Mendiami Bumi Cendrawasih Secara Tidak Adil Dan Bermartabat Melalui Hukum Internasional. Pelaku kejahatan kemanusiaan, pelanggarakan hak-hak dasar bangsa pribumi Papua Barat,  di selenggarakan oleh Pemerintah Indonesia  di bawah tekanan dan moncong senjata oleh angkatan bersenjata republik Indonesia (ABRI) pada waktu itu, kejahatang di maksud di kenal dengan nama Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969 yang penuh cacat hukum, setelah bersekongkol dengan Belanda dan Amerika serikat di bawah control organisasi UNESCO atau saat ini di sebut persatuan bangsa- bangsa (PBB) 01 Mei 1963.

                Sebagaimana kita mengetahui bersama bahwa aksi damai dalam hal menyampaikan pendapat di muka umum adalah hak segala bangsa termasuk hak –hak terhadap setiap warga Negara yang baik, sesuai dengan seruan Dalam pembukaan Undang-Undang  dasar 1945 Alinea Pertama yang Berbunyi “Bahwa Sesunggunya Kemerdekaan Itu Ialah Hak Segala Bangsa Dan Oleh sebab itu tidak sesuai dengan peri Kemanusiaan dan Peri Keadilan”, yang di kumandangkan oleh pendiri dan pejuang bangsa Indonesia. Tetapi saat ini terasa aneh karena tampak real bahwa masih terdapat warga Negara yang tidak bisa menyampaikan pendapat, konsep, gagasan dan harapan rakyat secara terbuka khususnya melalui media - media local dan nasional  di Negara Indonesia yang menganut paham demokrasi.

                Walaupun harapan untuk menyampaikan jeritan rakyat Papua Barat kepada saudara saudarinya di tanah minahasa adalah merupakan sebuah kebutuhan yang sangat mendesak dan penting. Karena  dengan harapan bahwa mereka (umat manusia) yang memiliki hati nurani untuk kiranya mendengar, membaca seruan selain melihat suara jeritan yang dapat di sampaikan melalui media rakyat. Tetapi sikap pemerintah Indonesia melalui pihak kepolisian daerah Sulawesi Utara, realitasnya menutup mata hati  maka patut kami menghargai dan menghormati ketika kejahatan tidak di tindak sesuai nilai-nilai kemanusiaan yaitu  keadilan, kebenaran dan kejujuran terhadap bangsa Papua Barat dan dunia lainya di indonesia.

                Dan akhirnya kami  pemuda papua tentu akan tetap berjuang untuk menyampaikan suara rakyat tertindas bersama warga kawanua di bumi minahasa. “hai kawanku manguni..? dengarkan kicauan suara cenderawasih dari balik gunung, lembah dan pesisir Papua memanggilmu untuk turut mengambil bagian dalam gerakan rakyat pribumi, bangsa papua barat. Allah  kami Tuhan Semesta Alam akan membalas kebaikan dan doamu atas penderitaan bangsa Melanesia.


MENGETAHUI;
KOMITE NASIONAL PAPUA BARAT (KNPB)
KONSULAT INDONESIA TENGAH



Hiskia Meage
Ketua Umum.



Berikut Adalah Surat  Pemberitahuan KNPB Konsulat Indonesia Tengah Kepada  Kapolda Sulawesi Utara Melalui DIR. Intelkam Sulawesi Utara sebagai Berikuti..

M e d I a R a k y a t
KOMITE NASIONAL PAPUA BARAT (KNPB)
KONSULAT INDONESIA TENGAH
Manado, 27 April 2015
PERIHAL: PEMBERITAHUAN IJIN AKSI DAMAI

Kepada YTH:
KAPOLDA SULAWESI UTARA
(Cq. Dir, Intelkam Polda Sulut)


Dengan hormat.

                Salam sejahtera dalam  Nama Tuhan Yang Maha Esa, berhubungan dengan perihal di maksud di atas maka, kami Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Konsulat Indonesia. Tentu akan melaksanakan aksi demonstrasi secara damai dalam rangka memperingati hari Aneksasi Bangsa Papua Barat ke- 55. Oleh karena itu, kami memberitahukan agar kiranya berkenan untuk memberikan ijin dan di mohon pengamanan selama kegiatan berlangsung.

Adapun kegiatan aksi damai tersebut akan di laksanakan pada:
                Hari/Tanggal                 : Jumat, 01 Mei 2015
                Pukul                                  : 08.00 Wita - Selesai
                Bentuk Kegiatan         : Aksi Demonstrasi Damai, dengan Jumlah Massa 500 Jiwa
                Titik kumpul                 : Star dari Bank BNI Unsrat  Manado – Finis di Kantor Gubernur   
                                                                    Sulawesi   Utara.
                Tujuan Aksi                    : Ke- Kantor  Gubernur Propinsi Sulawesi Utara

Alat dan peraga aksi damai sebagai berikut:
Ø  Satu mobil pick up
Ø  Empat kendaraan roda dua (Motor)
Ø  Megafont 2 buah
Ø  Pamphlet
Ø  Baleho/Spanduk
Ø  Pakaian Adat

                Demikian surat pemberitahuan ini di buat untuk di ketahui dan dapat di pergunakan sebagaimana mestinya. Atas perhatian dan kerja sama yang baik  tak lupa kami menyampaikan terimakasih.

HORMAT KAMI


Frans Pekey                                                            Hiskie Meage
         Koord. Lapangan                                                    Penanggungjawab Aksi

Oleh : Y.T/P.L


Hiskia Meage Ketua UMUM KNPB KONSULAT sedang Membaca Kembali Surat  Pemberitahuan Yang Di Tolak



Kamis, 30 Oktober 2014

Gubernur Sulut Shs Menghalangi Gubernur Papua ke Manado 
 
Gubernur Sulawesi utara menghalangi dan tidak tepati janji Kesepakatan

14146364671615308634

Paskah terjadi PembunuhanPetius Tabuni Mahaiswa Asal papua  pada tanggal 19 Oktober 2014 Lalu, Gubernur Papua Lukas Enembe S. IP, Ingin datang kunjungan ke Manado untuk menyaksikan masalah dan kondisi korban pembunuhan, Namun Gubernur Sulawesi Utara Ternyata menghalangi Gubernur Papua datang ke manado. Sehingga ada berapa pesan dari gubernur papua Kepada Gubernur Sulawesi Utara.
Gubernur sulawesi utara Sinyo Harry Sarundajang, Kepada Gubernur papua ia mengatakan bahwa, saya sebagai orang tua dan masalah ini saya yang akan menyelesaikan sampai tuntas. Dibawah ini Perjanjian Gubernur Sulawesi Utara dan Gubernur Papua melalui telpon Seluler sebagai berikut:
  1. Harapan dan Pesan dari pada gubernur papua terhadap Gubernur Sulawesi Utara ” langkah-langkah politik dalam penyelesian masalah” (Tidak terealisasi)

  2. Harapan dan Pesan dari pada gubernur papua terhadap Gubernur Sulawesi Utara ” Tolong menuntaskan dan menangkap pelaku pembunuhan terhadap mahasiswa asal papua Petius Tabuni Oleh Masyarakat tataaran. (Belum terealisas) karena tataaran darah kecildan terjadi di depan rumah-rumah saja belum tangkap kalu orang papua yang jadi belaku cepat menangkap.

  3. Harapan dan Pesan dari pada gubernur papua terhadap Gubernur Sulawesi Utara ” Tolong meneylesaiakn dan Mengatasi  masalah ini sampai tuntus sampai akar-akar masalah dengan adil. (tidak terealisasi) karena sampai sekarang masalah belum selesai

  4. Harapan dan Pesan dari pada gubernur papua terhadap Gubernur Sulawesi Utara “Komunikasikan Kepada Warga Manado dengan baik dalam penyelesaikan masalah ini. (tidak teralisasi) karena memihak

  5. Harapan dan Pesan dari pada gubernur papua terhadap Gubernur Sulawesi Utara “Kekurangan-kekurangan apapun yang dialami oleh mahasiswa Papua dalam Masalah ini Harus di Bantu Oleh Pemerintah Sulawesi Utara ( Makan Minum, Obat-Obatan, dan Bantuan berupa Uang dan lain-lain  selama masalah ini belum diselesaikan” (tidak terealisasi)

  6. Harapan dan Pesan dari pada gubernur papua terhadap Gubernur Sulawesi Utara ” Keluarga Korban Mohon di bantu apapun yang mereka butuhkan dan dipasilitasi untuk Mayat ( Untuk Kekuarangan yang dialami Oleh Keluarga Korban tidak dibantu ( Belum terealisasi) dan Untuk Pasilitasi Mayat dari Manado Ke Kampung halaman ( Teralisasi)”.

  7. Harapan dan Pesan dari pada gubernur papua terhadap Gubernur Sulawesi Utara “Jika Kekuarangan Makanan tolong diperhatikan”. (tidak terealisasi)
Pesan Diatas ini laporan melalui telpon seluler yang disampaikan oleh Dinas Kesejahteraan dan Dinas Sosial Provinsi papua bahwa ini pesan yang disampaiakn Oleh Gubernur papua (Lukas Enembe, S.IP)
Namun mereka cek kepada Mahasiswa Papua IMIPA ternyata belum ada pelaksanaan Oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara.
Sehingga Ikatan Mahasiswa Indonesia Papua (IMIPA) di sulawesi utara sudah dilaporkan semua kondisi dan Keadaan yang di alami Oleh Mahasiswa Asal Papua dari tanggal 19 sampai saat ini..


Dilaporkan Oleh: P. Lokon

Rabu, 29 Oktober 2014

Menyikapi penangkapan beberapa anggota kelompok sipil bersenjata di Wamena, Kabupaten Jayawijaya sebelumnya, Puron Wenda yang mengaku Panglima Komando Organisasi Papua Merdeka (OPM) Wilayah Pilia, Lanny Jaya, Papua menelepon wartawan di Kota Jayapura melalui telepon selulernya dengan menebar ancaman perang.
Bahkan dalam teleponnya itu, Puron mengaku akan mencari setiap warga pendatang atau non Papua yang ada di seluruh Papua, jika Polisi tidak segera membebaskan Rambo Wenda. "Kami minta polisi segera melepaskan rekan kami Rambo Wenda. Kami beri waktu dua hari, bila tidak, maka kami bersama seluruh rakyat Papua nyatakan perang dan akan menjadikan seluruh warga non Papua yang ada di Papua sebagai target," katanya melalui telepon selulernya, Selasa, 28 Oktober 2014.

Puron juga mengklaim sudah menghubungi Kapolda Papua Irjen Yotje Mende, guna meminta pembebasan terhadap rekannya. "Rambo adalah rekan saya seperjuangan di dalam OPM. Dia prajurit kami, dulunya dari Puncak Jaya kemudian ke Lany Jaya, kami dulu sama-sama menyerang Polsek Pirime. Nama asli Rambo Wenda adalah Enggangranggo Wenerengga. Tapi dia dijuluki Rambo karena prajurit tangguh, yakni mampu berperang melawan aparat, disebut Rambo," jelasnya.
Dari data yang didapat, Rambo Wenda mulai dikenal saat berhasil menyerang Pos Polisi Tingginambut Puncak Jaya, Januari 2009. Dia  menyita beberapa pucuk senjata jenis SS1 milik Polisi. Atas keberhasilannya itu, Rambo kemudian diberikan wilayah kekuasaan di Kali Semen Mulia Ibu kota Puncak Jaya.

Tahun 2011 setelah pemekaran Lany Jaya, OPM kemudian mekar dengan lahirnya Komando Daerah Operasi (Kodap) Pilia. Rambo lantas bergabung dengan Puron Wenda. Mereka kemudian menyerang Polsek Pirime lalu menewaskan 3 anggota Polisi serta merampas senjata apinya.
Pada Ahad, 26 Oktober 2014, Briptu Tanggam Jikwa (TJ) dan enam orang anggota kelompok bersenjata pimpinan Dua Rambo ditangkap Timsus Polda Papua di sebuah hotel di Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Saat itu mereka sedang bertransaksi amunisi. Dalam penangkapan itu, polisi juga menyita 231 amunisi di rumah Briptu TJ. 

Yotje menyatakan masih menyelidiki motif, asal amunisi dan siapa yang bekerjasama dengan anggota polisi Polsek Nduga ini. "Kami selidiki semuanya," ujar Kapolda Papua, Irjen Pol Yotje Mende usai gelar barang bukti di ruang penyidikan, Polda Papua, Kota Jayapura, Papua, Selasa, 28 Oktober 2014.
Menurut Yotje, Briptu TJ bukan pemasok senjata, tapi dia terindetifikasi sekarang  memasok amunisi. Dari amunisi yang disita, ada  29 aminusi AK kaliber 7,52 milimeter, amunisi revolver sebanyak 19 butir dan amunisi SS1 231 butir. "Ini yang sedang kami kembangkan. Amunisi itu dari mana, kami masih jajaki," katanya.

Menurut Yotje, dari keterangan  satu pentolan kelompok bersenjata yang ditangkap, Rambo Wonda, Briptu TJ bukan bagian dari kelompoknya. Tapi Briptu TJ hanya memasok amunisi. Begitupun polisi tetap akan mendalami motifnya.  Briptu TJ, ujar dia,  baru pertama kali jual amunisi. "Kami akan lihat dari aspek kedisiplinan mengapa dia bersama dengan kelompok ini. Ini yang sedang kami kembangkan. Amunisi itu darimana kami masih jajaki. Saya juga meminta maaf karena tak bisa mengontrol anggota saya," jelasnya.
Yotje juga mengatakan, kasus  Briptu TJ sudah dilaporkan ke pimpinan Polri dan akan ditindak tegas. Pertama akan dilakukan pemecatan lewat sidang disiplin dan kode etik polri. Yang bersangkutan juga akan dikenakan tindak pidana. "Kami upayakan secepatnya. Target saya paling lama dua minggu. Nanti kami proses," kata Yotje. Setelah kode etik dengan hukuman pemecatan, Briptu TJ  akan dipidanakan. "Saya akan minta pengadilan menjatuhkan hukuman seberat-beratnya. Karena dia berlapis bisa ditambahkan dari ancaman pokok," jelasnya.

Yotje juga berterimakasih kepada masyarakat khususnya masyarakat Lanni Jaya dan Jayawijaya karena bekerjasama dengan Timsus menangkap kelompok bersenjata itu. Dalam penangkapan itu, ada dua orang yang paling dicari polisi yakni Rambo Wonda dan Rambo Tolikara. "Rambo Wonda, dia adalah pemegang senjata Arsenal yang dirampas di Puncak Jaya. Namun yang bersangkutan tidak membawa senjata. Rambo Tolikara, dia adalah anak buah Goliat Tabuni. Dia juga sadis," jelasnya.
Menurut Yotje, setelah menangkap Rambo Wonda dan Rambo Tolikara bersama tiga rekannya dan satu oknum anggota polisi, kini masih ada delapan orang pentolan kelompok bersenjata di wilayah pegunungan Papua yang menjadi incaran utama kepolisian setempat. "Ada delapan orang. Di antaranya, Purom Wenda, Enden Wanimbo, Militer Murib, Goliat Tabuni dan lainnya. Namun seluruhnya dari data yang ada di kami sebagai pelaku sekitar 52 anggota kelompok bersenjata yang jadi DPO."

COPAS TEMPO.CO, Jayapura -  P. Lokon

Senin, 27 Oktober 2014

Mahasiswa Papua Jumpa Pers di Asrama Papua di Manado ini di Ikuti Oleh 600 Mahasiswa Asal Papua

14143771931800302448

 
Mahasiswa Papua yang berkota studi Di Manado Sulawesi Utara akan Melaksanakan Jumpa Pers di Kediaman Asrama cenderawasih Mahasiswa Papua di Manado, pada pukul 09.30 Wita.
Dalam jumpa pers ini akan membicarakan berapa hal yang sangat penting diantaranya yaitu:

1. Kepada Gubernur  Sulawesi Utara agar segera menghadirkan Guberneur Papua dan Papua Barat di Sulawesi Utara.

2. Kepada Kapolda Sulawesi Utara untuk segera Mengungkapkan Pelaku Pembunuhan yang secara tidak bermartabat (Manusiawi) terhadap  Almarhum Petius Tabuni, Mahasiswa asal Papua selambat-lambatnya dalam 1 Minggu.

3. Acara Proses penandatanganan kesepakatan perjanjian damai antara masyarakat tataaran kecamatan tondano selatan dan mahasiswa asal papua pada tanggal 23 Oktober 2014 belum sempurnah dan bersifat sepihak dan sangat memaksakan.

4. Kami Sudah Menarik seluruh Anggota Mahasiswa asal Papua yang berstudi dan  berdomisili  di tonadano, Tomohon, Kairagi Polik Ke Manado (Asrama Cenderawasih V manado) 

5. Kami Mahasiswa Papua yang berstudi Di Sulawesi utara Baik Negeri Maupun Swasta tidak akan melaksanakan aktivitas perkuliahan selama Tuntutan  Kami belum terpenuhi.

6. Jika Point 1, 2, 3, 4, dan 5 belum dilaksanakan maka Point ke Enam akan Beralaku, Yaitu Seluruh Mahasiswa (Bangsa) Papua Akan Eksodus (pulang) Besar-Besaran dari Negeri Nyur Lambaik (Sulawesi Utara)  Ke Tanah Suci Bumi cendererawasih, (Papua) dengan catatan bahwa orang Minahasa (Manado) di Papua harus dipulangkan kembali Ke Manado.

A
genda Yang akan dilaksanakan dalam jumpa Pers sudah disebutkan diatas ini.  Seluruh Mahasiswa Papua tidak kuliah selama Masalah ini belum diselesaikan Oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, Kapolda Sulawesi Utara dan Dandrem Sulawesi Utara, Pemerintah Kabupaten Minahasa.
Ada Sebagian mahasiswa Asal papua sudah pulang di Papua dan yang sementara ada di Sulawesi utara 4.000.000 (Empat ribu) Mahasiswa Asal Papua yang masih bertahan di sulawesi dan sudah pulang 300 Mahasiswa asal papua yang sudah pulang ke bumi cenderawasih.

“Oleh: P. Lokon”


TEAM INVESTIGASI IMIPA PUSAT-SULUT

Ikatan Mahasiswa Indonesia Papua telah membuat tim Ivetigasi atas pembunuhan almarhum Petius Tabuni Oleh IMIPA Sendiri.

Dibawa ini adalah hasil Pengakuan Dari Kronologi yang benar Oleh Mahasiswa Papua sesuai Kronologinya.

Sekitar jam 02.30 WITa Awal Mula Masalah
(Wedison Kogoya) yang mengendarai mobil Avanza, bersama dengan temannya Jeck Kogoya dan Kores Arwam, Sekitar jam 2 keluar cari akua di Tataaran dekat antara Pertigaan dan Atm, mencari toko tapi tidak ada yang buka pada saat itu, kemudian menoleh ke arah ATM ada seorang berhadapan dengan (L dan S) yang sedang beradu argumen. Sehingga saya lekas turun dari Mobil dan saya menghampiri mereka dan mengatakan, bapak “biarkan mereka. Kemudia bapak itu membiarkan mereka, Saya pun berjabatangan dengan bapak itu. Kemudian saya menyuruh mereka untuk segera kembali ke asrama Kamasan VI. Karena saya berlawanan arah dengan mereka sehingga saya memutar mobil untuk bisa mengawal mereka. Pada saat saya memutar mobil, mereka (Lazarus Lambe dan Semi Lambe) sudah mengunakan motor mendahului saya, menuju ke arah asrama Kamasan VI. Setelah saya memutar mobil dan mengikuti mereka dalam perjalanan menuju asrama, kedua teman mahasiswa (Lazarus Lambe dan Semi Lambe)  sudah di keroyok, ada beberapa yang menggunakan Piso dan pedang. Karena kami melihat mereka mengeroyok Lasarus dan semi sehingga kami menuju asrama untuk sampaikan pada  teman-teman di asrama, dengan maksud pergi menyelamatkan mereka dengan baik. Ketika saya sampaikan pada mereka, teman-teman yang lagi mebuat syukuran pada acara wisuda mahasiswa itu, sehingga mereka yang mendengar ikut kembali ke tempat kejadian perkara. Jarak dari asrama ke TKP sekitar 700-800 meter.

Hal yang sama di katakan oleh kedua Mahasiswa (Lazarus Lambe dan Semi Lambe) Awal mula tujuan ke ATM BRI,  tepatnya di pangkalan ojek atau di depan ATM Bank Sulut. Disana kami bertemu dengan seseorang yang mengaku diri keamanan disekitar situ, untuk menyuh kami pulang. Sehingga kami pun bertujuan untuk kembali ke asrama,  bersamaan dengan itu ada teman kami yang datang mengunakan mobil. (Wedison) mereka menggunakan Mobil Avanza, kami kembali ke asrama Kamasan VI Tondano, sewaktu dalam perjalanan menuju asrama tepatnya di selokan sungai JEMBATAN KUNING, karena pada saat itu saudara (S) topinya tertiup angin hingga jatuh dan maksud kami untuk mengambil topi (Semi L) yang terjatuh.
Sekitar jam 03.15 WITa
Pada saat mereka menggambil topi tersebut kemudian ada suara orang yang tidak dikenal, karena gelap, dia berkata “KIAPA NGANA” (Kamu kenapa), bersamaan dengan itu ada sekitar 7 orang lainnya,  mengejar kami berdua (Lazarus Lambe dan Semi Lambe) ketika kami berusaha untuk menghidar atau berlari kemudian mereka mengejar kami (Lazarus dan Semi)  , dan ada yang menggunakan motor. Yang mengunakan motor yang menyelip di depan kami, mereka melakukan penganiyaan (menendang Sendi Lambe dan terbentur Lazarus, lalu kami berdua jatuh, kata Lazarus), kemudian kami berdiri namun mereka memukul kami mengunakan tangan, kemudian kami berlari dan terpencar ketakutan dan ada yang mengancam kami mengunakan pisau dan Pedang. Sehingga saya (Lazarus) berlari menuju persawahan warga, dan adik saya (Semi) berlari menuju ke sekitar area Asrama Raja Ampat, ada seorang ibu yang melihat saya dan menyuru saya masuk kedalam asrama.
Sekitar jam 03.45 WITa
Saya (kata Lazarus) berada di tempat persawahan disana sekitar 30 menit, kemudian saya mendengar ada beberapa suara dan saya kenal kalau itu teman-teman mahasiswa papua dari asrama Kamasan VI. Sehingga saya berani keluar dan menemui mereka dan mereka menyuruh saya pulang ke asrama kamasan.
Sekitar jam 03.45 WITa
(Semi) Sewaktu di asrama raja ampat saya bersembunyi, disana ada seorang ibu diasrama yang melihat saya, sehingga ibu itu mengatakan masuk ke dalam rumah (asrama raja ampat). Setelah sekita 25-30 menit berlalu, saya mendengar ada suara teman-teman mahasiswa papua mereka mencari saya sehingga saya memberanikan diri untuk keluar dengan maksud menemui mereka. Saya mengambil motor pada saat yang sama, saya mendengar ada yang menghunus Pedang di atas aspal (sebelah Barat) sehingga saya meninggalkan motor dan saya merapatkan barisan bersama dengan teman-teman asrama.
Sekitar jam 04.00 WITa
Rombongan I. Teman Kami (Frans Jikwa) Pada yang menuju ke depan pertigaan jalan Tataaran. Karena pada waktu itu anak-anak tidak berhasil bertemu dengan kedua teman (Lazarus dan Semi)  sehingga anak-anak MELAMPIASKAN KEMARAHAN MEREKA “secara spontanitas ke rumah-rumah warga”). Rombongan ke II mahasiswa asrama kamasan yang bertemu dengan mereka tak lebih dari 15 menit mereka menyusul Rombongan I (Pertama), rombongan ke II ini, yang bertemu dengan kedua (Lazarus dan Semi)  
Sekitar jam 04.00 wita

Warga TATAARAN mulai berkumpul satu persatu dan semakain banyak, warga tataaran dengan membawa benda tajam (Pedang, parang dan Tombak) maupun benda tumpul (Kayu, besi dan Batu), Disitu juga ada anggota kepolisian yang ikut bergabung bersama masyarakat dan melempari mahasiswa papua di RUAS JALAN JEMBATAN KUNING tersebut.
Pada saat Bentrokan antara Warga Tataaran versus Mahasiswa papua, pada saat itu saudara (sdr.Lazarus) keluar dari barisan sehingga dia (sdr Lemius) terkena goresan pedang dengan luka berat warga tataaran. Teman-Teman Mahasiswa Papua berupaya untuk menyelamatkan sdr. Lemius, serta ditandu menuju asrama, semua teman-teman di asrama melihat (sdr.lemius) yang bersimbah darah mereka tidak menerima perlakukan warga tataaran.

ALMAHRRUM PETIUS TABUNI melihat keponakannya (sdr.Lemius Jikwa) berlumuran darah, maka Almahrum tidak menerima kenyataan (Pamanya di pukul dengan Balok oleh warga tataaran), Almahrum marah dan bersama-sama dengan Mahasiswa di Asrama menuju kerumunan warga Tataaran di depan ruas jalan Tataaran, Kejar kejaran antara warga Tataaran vs mahasiswa papua silih berganti saling menyerang dimana Warga Tataaran mengunakan beberapa alat tajam (Pedang, Parang, pisau dan Tombak dan alat tumpul lainnya (tidak bisa dipastikan), sehingga mahasiswa papua terdesak mundur ke asrama kamasan VI. Disana semua warga Masyarakat Tataaran sudah berkumpul dengan maksud mereka masuk dan menyerang Mahasiswa Papua yang berada di asrama kamasan VI, jumlah yang saat itu mengikuti syukuran dan acara wisuda dan terjebak dengan keadaan penyerangan warga tataaran berjumlah 447 orang, itu terdiri dari mahasiswa papua yang berkuliah di Tondano, Tomohon dan Manado. 

Di Asrama Kamasan semakain banyak warga Tataaran yang sudah berkumpul dan melempari Asrama Kamasan VI dengan Batu, mereka juga mempersenjatai diri dengan benda tajam (Panah wayang, Pedang, Parang, Pisau, Tombak), benda tumpul (Kayu, Batu, Besi) ada yang menggunakan senapang angin. Pengepungan ini, terjadi hingga siang hari sekitar jam 11.00 WITa. Warga Tataaran juga mengintimidasi Mahasiswa Papua di semua asrama kabupaten-kabupaten/Kota se tanah papua lainnya yang berlokasi di Wilayah Tataaran, hingga akhirnya polisi silih berganti menjemput mahasiswa di tiap asrama. Polisi juga mengamankan asrama-asrama kabupaten-kabupaten/kota yang berada di Tataaran. Ketika semua mahasiswa yang diungsihkan sementara di asrama Putra Kamasan VI di perkirakan berjumlah 600an orang mahasiswa papua yang berada di Tondano, dimana mereka semua berkuliahan di UNIMA Tondano.
 



Oleh: P.Lokon

SEJARAH IMIPA?

IMIPA Berdiri Pada

Apa Itu IMIPA?

Imipa adalah dimana suatu Wadah Sosial yang Menghimpun Semua Mahasiswa Asal Papua yang ada di kota studi Sulawesi Utara. Kepanjangan dari IMIPA : Ikatan mhasiswa Indonesia Papua. Sekertariat Terleatak di Kleak Bahu, Kamasan V Manado Depan Gereja Peniel.

Visitor In Blog IMIPA SULUT

Popular Posts

Recent Posts

Terjemahkan

Berita Yang Dikuti

Pelajaran dan Berita Lainnya Disini