![]() |
| Saat Mahasiswa HIMPY Melaksanakan Penerimaan Anggota Baru |
Tampilkan postingan dengan label Manado. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manado. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 08 Agustus 2015
04.29
Admin
IMIPA Cabang Tondano, Mahasiswa, Manado
No comments
Manado-Imipasulut.blogspot.com- 8/8/2015 Himpunan Pelajar dan mahasiswa Yalimo (HIPMY) Telah melaksanakan Penerimaan Anggota Baru dari tanggal 6 dan 8 di Asrama Kamasan VIII Tomohon.
Dalam kegiatan peneriaman ini dilaksanakan pada hari yang berbeda dengan hari pertama pada tanggal 6 di fokuskan untuk Memberikan Materi di Asrama Yalimo dan Kemudian untuk tanggal 8 Agustus 2015 Melaksanakan Kegiatan Ibadah dan sekaligus menerima Anggota Secara Organisasi Oleh Pembina, Pengarah dan Badan Pengurus HIPMY.
Dalam Kegiatan Ibadah Penerimaan Anggota Baru Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Yalimo, ini dihadiri dari beberapa Kota Study Tondano, Manado, Kairagi Polik dan Tomohon, yang ada di sulawesi Utara, dengan Jumlah yang hadir 120 Orang.
Thema : “ Diluar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” Yohanes 15: 5
SubThema : Melalui Penerimaan dan Pembinaan Anggota Baru HIPMY ini, Anggota yang akan diterima mampu beradaptasi, Bersaing, Bertanggung Jawab dalam Dunia Kampus, Organisasi dan di Manapun Berada.
Ibadah Dipinpin Langsung Oleh Pdt. Otni Yarengga, Dibawakan Firman Tuhan dari Thema yang sudah ditetapkan Oleh Panitia “ Diluar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” dalam Kitab Yohanes 15: 5.
Segala Sesuatu yang kita pikirkan sebelum itu Ingatlah dahulu kepada Tuhan Karena Kami selalu Membutuhkan Tuhan Allah lebih dari pada Lain-lain. Karena Segala sesuatu hanya Dia Oleh Dia sepanjang hidup sampai Kematian. Ada Filosophy Diantaranya Jari.
Jari Jempol Menandakan kepada kehebatan pada seseorang, Yang Berbuat Benar atau baik dan sebagainya.
Kemudian Jari Telunjuk digunakan untuk menunjuk sesuatu, yang baik atau tidak baik. Kemudian untuk Jari Tengah karena Ia Ditengah sehingga Muncullah Kesombongan bahwa saya yang paling tinggi dari semuanya. Kemudian Jari Manis adalah jari dimana bisa dipasang Cincin sehingga disebut Manis karena ada Makotannya, Sedangkan Jari Kelingking adalah jari yang Paling terkecil dia antara Semuanya, dan Ia Merupakan Patut diargai karena Dia Termasuk tangan.
Maka diambil kesimpulan dari berbedaan Jari tetapi ia tetap disebut sebagai Tangan karena Ia ada Dalam Satu Kesatuan.
Tangan Ini Mengambarkan Perbedan Sifat dan Kareakter yang Berbeda-beda tetapi kami adalah Satu Kesatuan dari Perbedaan yang ada. Sepintar apapun kita bisa puji dan hebat namun Suatu saat bisa Gagal tetapi kalau kita tinggal dalam Tuhan Hal itu tak akan terjadi kegagalan.
Maka kami mahasiswa Papua yang ada di sulawesi Utara dan Khususnya Mahasiswa Yalimo, Kami adalah satu Kesatuan, Tidak ada perbedaan diantara Kami, dan terus tingkatkan Kebersamaan, Jelas Otni dalam Khotbahnya.
Berikut hasil wawancara kami dengan Ketua Panitia, Pengarah dan Ketua Rukun HIMPY,
Raimon Peyon, “ Saya Sebagai Ketua Panitia Penerimaan Anggota Baru HIPMY” saya Menyampaikan Terima Kasih Kepada Wadah Organisasi Sosial, Keminan serta Seluruh Mahasiswa Papua yang ada di Sulawesi Utara dan Secara Khusus kepada semua Anggota HIMPY yang mana telah Bekerja Keras, Walaupun dalam pembentukan Panitia ini tidak Lama karena Banyak terjadi masalah terhadap mahasiswa Papua kemarin, Tetapi Puji Tuhan Kegiatan ini bisa sukses dengan Baik karena Atas Campur Tangan dan Pertolonga Tuhan, dan Juga Atas Bantuan Baik Tenaga Maupun Dana dari Teman-teman Mahasiswa Papua Serta atas Usaha Kerja Keras Mahasiswa Yalimo sehingga Bisa sukses, Biarlah kiranya Tuhan yang punya berkat akan memberkati kita semua.
Thobias Yohame, “Sebagai Ketua Rukun HIMPY” Menagatakan bawha Pada Tahun Angkatan 2015 Ini walaupun anggota Baru hanya 2 Orang dan Jauh berbeda dari jumlah sebelumnya tetapi Semangat Perjuangan dan Kerja keras dari Anggota tidak Menerun, semangat terus ada sehingga kegiatan penerimaan ini bisa berjalan Baik Sesuai dengan Harapan Kami Semua. Inipun juga tidak terlepas dari Bantuan Saudara dan Saudari Sekalian, Ujarnya.
Tambah Thobias, Kami Melaksanakan Kegiatan Untuk Memberikan materi di asrama Yalimo kemudian kami melanjutkan di Asrama Kamasan VIII Tomohon, dengan tujuan untuk Mengkaderkan, Kami tidak dibatasi dan dilihat dari Jumlah Anggotanya tetapi kami Terima disini dengan Tujuan agar Bisa saling Mengenal di Banyak Orang karena mereka juga adalah Kader selanjut Untuk Papua dan Khususnya Kabupaten Yalimo Kedepan.
Harapan dari Ketua HIPMY bahwa khusus anggota baru jangan putus asa teteap semangat dan kami akan Men support untuk Generasi Berikutnya datang kuliah disini dengan semangat dan agar selanjutnya lebih baik dari sekarang.
Maikel Mabel, S. Kep “Yang Merupakan Sebagai Pengarah” Menyampaikan bahwa pelaksanakan Kegiatan ini juga tidak terlepas dari tanggung jawab dan arahan dari kami Pengarah. Kami terus berpesan kepada pengurus merangkap dengan Anggota serta Anggota Baru untuk tidak perlu dipertimbanga dengan situasi dan kondisi lagi karena Allah Berfirman bahwa sebab banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang dipilih, maka itu mari melalui Organisasi ini dan kebersamaan Organisasi biasa ada dibawah Satu Honai Melalui Kebersamaan Organisasi dan kami tidak memisahkan antara satu dengan lain.
Kami melanjutkan Organisasi ini tidak bisa dipatokan dari Kekurang tetapi bagi siapa yang ingin bergabung mari bergabung melalui wadah IMIPA Besar atau Organisasi Masing-masing. Semoga bisa berperan aktif di Organisasi Masing-masing, dan tidak ada Perbedaan diantara Kami.
Hiskia Meage Sebagai Orang Tua Dan Ketua KNPB Konsulat Indonesia Tengah Menyapaikan dalam Sambutannya Berpesan Kepada Seluruh Mahasiwa Papua Dari Sorong Sampai Samarai Untuk Terus menjaga keamanan dan Kenyamana di Sulawesi Utara serta Terus Tingkatkan Kebersamaan, Karena Tidak ada Perbedaan diantara kami Orang Papua yag ada dan tak ada lagi Orang Tua kami akan datang bicara seperti ini, Jelasnya. Suara Pasema
Kamis, 30 April 2015
10.34
Admin
KNPB, Mahasiswa, Manado
No comments
| Intel Sedang Bertanya untuk Kegiatan 1 Mei 2015 Kepada Ketua KNPB Konsular Hiskia.. |
Manado, Suarapasema.blogspot.com -- Di Asrama Kamasan V Manado, 2 Orang Intel dari Satuan Polda Sulawesi Utara, Mereka Masuk dengan Tujuan apakah kegiatan 1 Mei 2015 akan Laksanakan atau tidak? Namun Kata Ketua KNPB Konsulat Indonesia Tengah Hiskia, Walaupun Tidak Disinkan Lakukan Aksi Demo Damai Di Kantor Gubernur tetapi Kami akan tetapi Lakukan tetapi beda dalam Bentuk Kegiatan karena hanya di Rumah. Sebab Kami sudah Masukan Surat dengan Mengikuti Prosedur Namun tidak Menerima Kami dengan alasan tidak terdaftar di Kesbangpol Provinsi Sulawesi Utara dan Kesbangpol Papua, Sehingga Kami KNPB Konsulat Indonesia Tengah Pulang dengan Air Mata, Kenapa bisa memper Lakukan Kami Seperti ini, Ujar Hiskia. Hari Ini 30 April 2015, Jam 16.30 Wita dini Hari.
Hiskia Meage Juga Menambahkan, Minahasa sudah membesarkan kami, mendidik kami sehingga bisa bersuara untuk demi menyatakan keadilan dan kebenaran bagi kami Orang Papua, Tambahnya.
, Tujuan 2 Orang Intel masuk di Asrama Untuk tanyakan Kegiatan Besok, Memperingati Hari ANEKSASI WEST PAPUA, Namun Ketua KNPB Konsulat Indonesia Tengah Hiskia Meage, Mengatakan Bahwa, Kami akan Tetap Laksanakan Dalam Bentuk Ibadah dan Juga Sosialisasi Hasil ULMWP, dengan Seluruh Undangan yang Kami Bagi Dari Arsama, Kontrakan, Dan Gubuk, dengan Jumlah Undangan Yang Kami Bagikan Yaitu 70 Surat Yang Kami Keluarkan, Maka Dengan Bentuk Gaya Kami akan Tetap Lakukan.
Dalam Rangka Memperingati Hari Aneksasi 1 Mei 1963 - 2015, Bangsa Papua Secara Paksa dan Ilegal Mengakui Bahwa Papua Masuk di NKRI. ujar Hiskia..
Berikut Foto-Foto dari Suara Pasema West Papua/Lokon
Senin, 27 April 2015
09.18
Admin
KNPB, Mahasiswa, Manado, Papua
No comments
![]() | |
|
Manado-Suarapasema.blogspot.com- Hari ini KNPB Konsulat Melakukan Surat Izin Pemberitahuan untuk Melakukan Aksi Damai Memperingati Hari Anesasi Bangsa Papua Barat pada 1 Mei 1963 - 2015, Agar Kapolda Sulawesi Utara Melalui DIR. Intelkam Sulawesi Utara Untuk Menerbitkan surat izin turun Aksi, Namun Kapolda Sulut Menolak dengan Alasan Organisasi KNPB Konsulat tidak terdaftar di KesbangPol Sulawesi Utara, Pada Hari senin ,27 April 2015 dini hari.
Sehingga KNPB Konsulat hanya Menyampaikan terima kasih kepada Kepolisian Daerah Sulawesi Utara sebagai berikut:
TERIMAKASIH KAPOLDA SULAWESI UTARA
(Bapak. Brigjen Pol. Wilmar Marpaung)
Seluruh generasi baru baik Pemuda, Mahasiswa dan Masyarakat asal tanah Papua yang berada di bumi minahasa menyampaikan terimakasih yang tak terhingga melaui media rakyat, Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Konsulat Indonesia Tengah.
Ucapan terimakasih ini di tunjukan kepada Yang Terhormat Bapak Brigjen Pol. Wilmar Marpaung selaku Kapolda Sulawesi Utara. seruan hati ini secara terbuka dapat disampaikan langsung oleh Frans Pekey selaku Koordinator aksi damai dan Hiskia Meage sebagai Ketua Umum Komite Nasional Papua Barat, konsulat Indonesia Tengah. Hal ini di sampaikan setelah surat pemberitahuan ijin aksi damai di tolak dari Kepolisian Daerah Sulawesi Utara, alasan penolakan aksi damai hanya masalah administrative yaitu karena organisasi KNPB belum terdaftar secara resmi di kesbangpol Sulawesi Utara. Itu sebabnya, tidak diberikan ijin untuk melaksanakan aksi damai secara terbuka di kota manguni.
Aksi damai ini bermaksud dalam rangka Memperingati Hari Aneksasi 01 Mei 1963-2015. Atas Pencaplokan Tanah, Air, Udara Dan Manusia Yang Mendiami Bumi Cendrawasih Secara Tidak Adil Dan Bermartabat Melalui Hukum Internasional. Pelaku kejahatan kemanusiaan, pelanggarakan hak-hak dasar bangsa pribumi Papua Barat, di selenggarakan oleh Pemerintah Indonesia di bawah tekanan dan moncong senjata oleh angkatan bersenjata republik Indonesia (ABRI) pada waktu itu, kejahatang di maksud di kenal dengan nama Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969 yang penuh cacat hukum, setelah bersekongkol dengan Belanda dan Amerika serikat di bawah control organisasi UNESCO atau saat ini di sebut persatuan bangsa- bangsa (PBB) 01 Mei 1963.
Sebagaimana kita mengetahui bersama bahwa aksi damai dalam hal menyampaikan pendapat di muka umum adalah hak segala bangsa termasuk hak –hak terhadap setiap warga Negara yang baik, sesuai dengan seruan Dalam pembukaan Undang-Undang dasar 1945 Alinea Pertama yang Berbunyi “Bahwa Sesunggunya Kemerdekaan Itu Ialah Hak Segala Bangsa Dan Oleh sebab itu tidak sesuai dengan peri Kemanusiaan dan Peri Keadilan”, yang di kumandangkan oleh pendiri dan pejuang bangsa Indonesia. Tetapi saat ini terasa aneh karena tampak real bahwa masih terdapat warga Negara yang tidak bisa menyampaikan pendapat, konsep, gagasan dan harapan rakyat secara terbuka khususnya melalui media - media local dan nasional di Negara Indonesia yang menganut paham demokrasi.
Walaupun harapan untuk menyampaikan jeritan rakyat Papua Barat kepada saudara saudarinya di tanah minahasa adalah merupakan sebuah kebutuhan yang sangat mendesak dan penting. Karena dengan harapan bahwa mereka (umat manusia) yang memiliki hati nurani untuk kiranya mendengar, membaca seruan selain melihat suara jeritan yang dapat di sampaikan melalui media rakyat. Tetapi sikap pemerintah Indonesia melalui pihak kepolisian daerah Sulawesi Utara, realitasnya menutup mata hati maka patut kami menghargai dan menghormati ketika kejahatan tidak di tindak sesuai nilai-nilai kemanusiaan yaitu keadilan, kebenaran dan kejujuran terhadap bangsa Papua Barat dan dunia lainya di indonesia.
Dan akhirnya kami pemuda papua tentu akan tetap berjuang untuk menyampaikan suara rakyat tertindas bersama warga kawanua di bumi minahasa. “hai kawanku manguni..? dengarkan kicauan suara cenderawasih dari balik gunung, lembah dan pesisir Papua memanggilmu untuk turut mengambil bagian dalam gerakan rakyat pribumi, bangsa papua barat. Allah kami Tuhan Semesta Alam akan membalas kebaikan dan doamu atas penderitaan bangsa Melanesia.
MENGETAHUI;
KOMITE NASIONAL PAPUA BARAT (KNPB)
KONSULAT INDONESIA TENGAH
Hiskia Meage
Ketua Umum.
Berikut Adalah Surat Pemberitahuan KNPB Konsulat Indonesia Tengah Kepada Kapolda Sulawesi Utara Melalui DIR. Intelkam Sulawesi Utara sebagai Berikuti..
M e d I a R a k y a t
KOMITE NASIONAL PAPUA BARAT (KNPB)
KONSULAT INDONESIA TENGAH
PERIHAL: PEMBERITAHUAN IJIN AKSI DAMAI
Kepada YTH:
KAPOLDA SULAWESI UTARA
(Cq. Dir, Intelkam Polda Sulut)
Dengan hormat.
Salam sejahtera dalam Nama Tuhan Yang Maha Esa, berhubungan dengan perihal di maksud di atas maka, kami Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Konsulat Indonesia. Tentu akan melaksanakan aksi demonstrasi secara damai dalam rangka memperingati hari Aneksasi Bangsa Papua Barat ke- 55. Oleh karena itu, kami memberitahukan agar kiranya berkenan untuk memberikan ijin dan di mohon pengamanan selama kegiatan berlangsung.
Adapun kegiatan aksi damai tersebut akan di laksanakan pada:
Hari/Tanggal : Jumat, 01 Mei 2015
Pukul : 08.00 Wita - Selesai
Bentuk Kegiatan : Aksi Demonstrasi Damai, dengan Jumlah Massa 500 Jiwa
Titik kumpul : Star dari Bank BNI Unsrat Manado – Finis di Kantor Gubernur
Sulawesi Utara.
Tujuan Aksi : Ke- Kantor Gubernur Propinsi Sulawesi Utara
Alat dan peraga aksi damai sebagai berikut:
Ø Satu mobil pick up
Ø Empat kendaraan roda dua (Motor)
Ø Megafont 2 buah
Ø Pamphlet
Ø Baleho/Spanduk
Ø Pakaian Adat
Demikian surat pemberitahuan ini di buat untuk di ketahui dan dapat di pergunakan sebagaimana mestinya. Atas perhatian dan kerja sama yang baik tak lupa kami menyampaikan terimakasih.
HORMAT KAMI
Frans Pekey Hiskie Meage
Koord. Lapangan Penanggungjawab Aksi
Oleh : Y.T/P.L
| Hiskia Meage Ketua UMUM KNPB KONSULAT sedang Membaca Kembali Surat Pemberitahuan Yang Di Tolak |
Kamis, 30 Oktober 2014
11.43
Unknown
Home, Manado, Papua
No comments
Gubernur Sulut Shs Menghalangi Gubernur Papua ke Manado
Gubernur Sulawesi utara menghalangi dan tidak tepati janji Kesepakatan
Paskah terjadi PembunuhanPetius Tabuni Mahaiswa Asal papua pada tanggal 19 Oktober 2014 Lalu, Gubernur Papua Lukas Enembe S. IP, Ingin datang kunjungan ke Manado untuk menyaksikan masalah dan kondisi korban pembunuhan, Namun Gubernur Sulawesi Utara Ternyata menghalangi Gubernur Papua datang ke manado. Sehingga ada berapa pesan dari gubernur papua Kepada Gubernur Sulawesi Utara.
Gubernur sulawesi utara Sinyo Harry Sarundajang, Kepada Gubernur papua ia mengatakan bahwa, saya sebagai orang tua dan masalah ini saya yang akan menyelesaikan sampai tuntas. Dibawah ini Perjanjian Gubernur Sulawesi Utara dan Gubernur Papua melalui telpon Seluler sebagai berikut:
Namun mereka cek kepada Mahasiswa Papua IMIPA ternyata belum ada pelaksanaan Oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara.
Sehingga Ikatan Mahasiswa Indonesia Papua (IMIPA) di sulawesi utara sudah dilaporkan semua kondisi dan Keadaan yang di alami Oleh Mahasiswa Asal Papua dari tanggal 19 sampai saat ini..
Dilaporkan Oleh: P. Lokon

Paskah terjadi PembunuhanPetius Tabuni Mahaiswa Asal papua pada tanggal 19 Oktober 2014 Lalu, Gubernur Papua Lukas Enembe S. IP, Ingin datang kunjungan ke Manado untuk menyaksikan masalah dan kondisi korban pembunuhan, Namun Gubernur Sulawesi Utara Ternyata menghalangi Gubernur Papua datang ke manado. Sehingga ada berapa pesan dari gubernur papua Kepada Gubernur Sulawesi Utara.
Gubernur sulawesi utara Sinyo Harry Sarundajang, Kepada Gubernur papua ia mengatakan bahwa, saya sebagai orang tua dan masalah ini saya yang akan menyelesaikan sampai tuntas. Dibawah ini Perjanjian Gubernur Sulawesi Utara dan Gubernur Papua melalui telpon Seluler sebagai berikut:
- Harapan dan Pesan dari pada gubernur papua
terhadap Gubernur Sulawesi Utara ” langkah-langkah politik dalam
penyelesian masalah” (Tidak terealisasi)
- Harapan dan Pesan dari pada gubernur papua terhadap Gubernur Sulawesi Utara ” Tolong menuntaskan dan menangkap pelaku pembunuhan terhadap mahasiswa asal papua Petius Tabuni Oleh Masyarakat tataaran. (Belum terealisas) karena tataaran darah kecildan terjadi di depan rumah-rumah saja belum tangkap kalu orang papua yang jadi belaku cepat menangkap.
- Harapan dan Pesan dari pada gubernur papua terhadap Gubernur Sulawesi Utara ” Tolong meneylesaiakn dan Mengatasi masalah ini sampai tuntus sampai akar-akar masalah dengan adil. (tidak terealisasi) karena sampai sekarang masalah belum selesai
- Harapan dan Pesan dari pada gubernur papua terhadap Gubernur Sulawesi Utara “Komunikasikan Kepada Warga Manado dengan baik dalam penyelesaikan masalah ini. (tidak teralisasi) karena memihak
- Harapan dan Pesan dari pada gubernur papua terhadap Gubernur Sulawesi Utara “Kekurangan-kekurangan apapun yang dialami oleh mahasiswa Papua dalam Masalah ini Harus di Bantu Oleh Pemerintah Sulawesi Utara ( Makan Minum, Obat-Obatan, dan Bantuan berupa Uang dan lain-lain selama masalah ini belum diselesaikan” (tidak terealisasi)
- Harapan dan Pesan dari pada gubernur papua terhadap Gubernur Sulawesi Utara ” Keluarga Korban Mohon di bantu apapun yang mereka butuhkan dan dipasilitasi untuk Mayat ( Untuk Kekuarangan yang dialami Oleh Keluarga Korban tidak dibantu ( Belum terealisasi) dan Untuk Pasilitasi Mayat dari Manado Ke Kampung halaman ( Teralisasi)”.
- Harapan dan Pesan dari pada gubernur papua terhadap Gubernur Sulawesi Utara “Jika Kekuarangan Makanan tolong diperhatikan”. (tidak terealisasi)
Namun mereka cek kepada Mahasiswa Papua IMIPA ternyata belum ada pelaksanaan Oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara.
Sehingga Ikatan Mahasiswa Indonesia Papua (IMIPA) di sulawesi utara sudah dilaporkan semua kondisi dan Keadaan yang di alami Oleh Mahasiswa Asal Papua dari tanggal 19 sampai saat ini..
Dilaporkan Oleh: P. Lokon
Rabu, 29 Oktober 2014
19.35
Unknown
Home, Manado
No comments
Menyikapi penangkapan beberapa anggota kelompok sipil bersenjata di
Wamena, Kabupaten Jayawijaya sebelumnya, Puron Wenda yang mengaku
Panglima Komando Organisasi Papua Merdeka (OPM) Wilayah Pilia, Lanny
Jaya, Papua menelepon wartawan di Kota Jayapura melalui telepon
selulernya dengan menebar ancaman perang.
Bahkan dalam
teleponnya itu, Puron mengaku akan mencari setiap warga pendatang atau
non Papua yang ada di seluruh Papua, jika Polisi tidak segera
membebaskan Rambo Wenda. "Kami minta polisi segera melepaskan rekan kami
Rambo Wenda. Kami beri waktu dua hari, bila tidak, maka kami bersama
seluruh rakyat Papua nyatakan perang dan akan menjadikan seluruh warga
non Papua yang ada di Papua sebagai target," katanya melalui telepon
selulernya, Selasa, 28 Oktober 2014.
Puron juga mengklaim sudah menghubungi Kapolda Papua Irjen Yotje Mende,
guna meminta pembebasan terhadap rekannya. "Rambo adalah rekan saya
seperjuangan di dalam OPM. Dia prajurit kami, dulunya dari Puncak Jaya
kemudian ke Lany Jaya, kami dulu sama-sama menyerang Polsek Pirime. Nama
asli Rambo Wenda adalah Enggangranggo Wenerengga. Tapi dia dijuluki
Rambo karena prajurit tangguh, yakni mampu berperang melawan aparat,
disebut Rambo," jelasnya.
Dari data yang didapat, Rambo
Wenda mulai dikenal saat berhasil menyerang Pos Polisi Tingginambut
Puncak Jaya, Januari 2009. Dia menyita beberapa pucuk senjata jenis SS1
milik Polisi. Atas keberhasilannya itu, Rambo kemudian diberikan
wilayah kekuasaan di Kali Semen Mulia Ibu kota Puncak Jaya.
Tahun
2011 setelah pemekaran Lany Jaya, OPM kemudian mekar dengan lahirnya
Komando Daerah Operasi (Kodap) Pilia. Rambo lantas bergabung dengan
Puron Wenda. Mereka kemudian menyerang Polsek Pirime lalu menewaskan 3
anggota Polisi serta merampas senjata apinya.
Pada
Ahad, 26 Oktober 2014, Briptu Tanggam Jikwa (TJ) dan enam orang anggota
kelompok bersenjata pimpinan Dua Rambo ditangkap Timsus Polda Papua di
sebuah hotel di Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Saat itu mereka sedang
bertransaksi amunisi. Dalam penangkapan itu, polisi juga menyita 231
amunisi di rumah Briptu TJ.
Yotje menyatakan masih
menyelidiki motif, asal amunisi dan siapa yang bekerjasama dengan
anggota polisi Polsek Nduga ini. "Kami selidiki semuanya," ujar Kapolda
Papua, Irjen Pol Yotje Mende usai gelar barang bukti di ruang
penyidikan, Polda Papua, Kota Jayapura, Papua, Selasa, 28 Oktober 2014.
Menurut
Yotje, Briptu TJ bukan pemasok senjata, tapi dia terindetifikasi
sekarang memasok amunisi. Dari amunisi yang disita, ada 29 aminusi AK
kaliber 7,52 milimeter, amunisi revolver sebanyak 19 butir dan amunisi
SS1 231 butir. "Ini yang sedang kami kembangkan. Amunisi itu dari mana,
kami masih jajaki," katanya.
Menurut Yotje, dari
keterangan satu pentolan kelompok bersenjata yang ditangkap, Rambo
Wonda, Briptu TJ bukan bagian dari kelompoknya. Tapi Briptu TJ hanya
memasok amunisi. Begitupun polisi tetap akan mendalami motifnya. Briptu
TJ, ujar dia, baru pertama kali jual amunisi. "Kami akan lihat dari
aspek kedisiplinan mengapa dia bersama dengan kelompok ini. Ini yang
sedang kami kembangkan. Amunisi itu darimana kami masih jajaki. Saya
juga meminta maaf karena tak bisa mengontrol anggota saya," jelasnya.
Yotje juga mengatakan, kasus Briptu TJ sudah dilaporkan ke pimpinan
Polri dan akan ditindak tegas. Pertama akan dilakukan pemecatan lewat
sidang disiplin dan kode etik polri. Yang bersangkutan juga akan
dikenakan tindak pidana. "Kami upayakan secepatnya. Target saya paling
lama dua minggu. Nanti kami proses," kata Yotje. Setelah kode etik
dengan hukuman pemecatan, Briptu TJ akan dipidanakan. "Saya akan minta
pengadilan menjatuhkan hukuman seberat-beratnya. Karena dia berlapis
bisa ditambahkan dari ancaman pokok," jelasnya.
Yotje
juga berterimakasih kepada masyarakat khususnya masyarakat Lanni Jaya
dan Jayawijaya karena bekerjasama dengan Timsus menangkap kelompok
bersenjata itu. Dalam penangkapan itu, ada dua orang yang paling dicari
polisi yakni Rambo Wonda dan Rambo Tolikara. "Rambo Wonda, dia adalah
pemegang senjata Arsenal yang dirampas di Puncak Jaya. Namun yang
bersangkutan tidak membawa senjata. Rambo Tolikara, dia adalah anak buah
Goliat Tabuni. Dia juga sadis," jelasnya.
Menurut Yotje,
setelah menangkap Rambo Wonda dan Rambo Tolikara bersama tiga rekannya
dan satu oknum anggota polisi, kini masih ada delapan orang pentolan
kelompok bersenjata di wilayah pegunungan Papua yang menjadi incaran
utama kepolisian setempat. "Ada delapan orang. Di antaranya, Purom
Wenda, Enden Wanimbo, Militer Murib, Goliat Tabuni dan lainnya. Namun
seluruhnya dari data yang ada di kami sebagai pelaku sekitar 52 anggota
kelompok bersenjata yang jadi DPO."
COPAS TEMPO.CO, Jayapura - P. Lokon
Senin, 27 Oktober 2014
17.36
Unknown
Home, Manado, Papua
No comments
Mahasiswa Papua Jumpa Pers di Asrama Papua di Manado ini di Ikuti Oleh 600 Mahasiswa Asal Papua
Agenda Yang akan dilaksanakan dalam jumpa Pers sudah disebutkan diatas ini. Seluruh Mahasiswa Papua tidak kuliah selama Masalah ini belum diselesaikan Oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, Kapolda Sulawesi Utara dan Dandrem Sulawesi Utara, Pemerintah Kabupaten Minahasa.

Mahasiswa
Papua yang berkota studi Di Manado Sulawesi Utara akan Melaksanakan
Jumpa Pers di Kediaman Asrama cenderawasih Mahasiswa Papua di Manado,
pada pukul 09.30 Wita.
Dalam jumpa pers ini akan membicarakan berapa hal yang sangat penting diantaranya yaitu:
1. Kepada Gubernur Sulawesi Utara agar segera menghadirkan Guberneur Papua dan Papua Barat di Sulawesi Utara.
2. Kepada Kapolda
Sulawesi Utara untuk segera Mengungkapkan Pelaku Pembunuhan yang
secara tidak bermartabat (Manusiawi) terhadap Almarhum Petius
Tabuni, Mahasiswa asal Papua selambat-lambatnya dalam 1 Minggu.
3. Acara Proses
penandatanganan kesepakatan perjanjian damai antara masyarakat
tataaran kecamatan tondano selatan dan mahasiswa asal papua pada
tanggal 23 Oktober 2014 belum sempurnah dan bersifat sepihak dan
sangat memaksakan.
4. Kami Sudah Menarik
seluruh Anggota Mahasiswa asal Papua yang berstudi dan
berdomisili di tonadano, Tomohon, Kairagi Polik Ke Manado (Asrama
Cenderawasih V manado)
5. Kami Mahasiswa Papua
yang berstudi Di Sulawesi utara Baik Negeri Maupun Swasta tidak
akan melaksanakan aktivitas perkuliahan selama Tuntutan Kami belum
terpenuhi.
6. Jika Point 1, 2, 3, 4, dan 5 belum dilaksanakan maka Point ke Enam akan
Beralaku, Yaitu Seluruh Mahasiswa (Bangsa) Papua Akan Eksodus
(pulang) Besar-Besaran dari Negeri Nyur Lambaik (Sulawesi Utara)
Ke Tanah Suci Bumi cendererawasih, (Papua) dengan catatan bahwa orang Minahasa (Manado) di Papua harus dipulangkan kembali Ke Manado.
Agenda Yang akan dilaksanakan dalam jumpa Pers sudah disebutkan diatas ini. Seluruh Mahasiswa Papua tidak kuliah selama Masalah ini belum diselesaikan Oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, Kapolda Sulawesi Utara dan Dandrem Sulawesi Utara, Pemerintah Kabupaten Minahasa.
Ada
Sebagian mahasiswa Asal papua sudah pulang di Papua dan yang sementara
ada di Sulawesi utara 4.000.000 (Empat ribu) Mahasiswa Asal Papua yang masih
bertahan di sulawesi dan sudah pulang 300 Mahasiswa asal papua yang
sudah pulang ke bumi cenderawasih.
“Oleh: P. Lokon”
TEAM INVESTIGASI IMIPA PUSAT-SULUT
Ikatan Mahasiswa Indonesia Papua telah membuat tim Ivetigasi atas pembunuhan almarhum Petius Tabuni Oleh IMIPA Sendiri.
Dibawa ini adalah hasil Pengakuan Dari Kronologi yang benar Oleh Mahasiswa Papua sesuai Kronologinya.
Sekitar jam 02.30
WITa Awal Mula Masalah
(Wedison Kogoya)
yang mengendarai mobil Avanza, bersama dengan temannya Jeck Kogoya dan Kores
Arwam, Sekitar jam 2 keluar cari akua di Tataaran dekat antara Pertigaan dan
Atm, mencari toko tapi tidak ada yang buka pada saat itu, kemudian menoleh ke
arah ATM ada seorang berhadapan dengan (L dan S) yang sedang beradu argumen.
Sehingga saya lekas turun dari Mobil dan saya menghampiri mereka dan mengatakan,
bapak “biarkan mereka. Kemudia bapak itu membiarkan mereka, Saya pun
berjabatangan dengan bapak itu. Kemudian saya menyuruh mereka untuk segera
kembali ke asrama Kamasan VI. Karena saya berlawanan arah dengan mereka
sehingga saya memutar mobil untuk bisa mengawal mereka. Pada saat saya memutar
mobil, mereka (Lazarus Lambe dan Semi Lambe) sudah mengunakan motor mendahului
saya, menuju ke arah asrama Kamasan VI. Setelah saya memutar mobil dan
mengikuti mereka dalam perjalanan menuju asrama, kedua teman mahasiswa (Lazarus
Lambe dan Semi Lambe) sudah di keroyok,
ada beberapa yang menggunakan Piso dan pedang. Karena kami melihat mereka
mengeroyok Lasarus dan semi sehingga kami menuju asrama untuk sampaikan pada teman-teman di asrama, dengan maksud pergi
menyelamatkan mereka dengan baik. Ketika saya sampaikan pada mereka, teman-teman
yang lagi mebuat syukuran pada acara wisuda mahasiswa itu, sehingga mereka yang
mendengar ikut kembali ke tempat kejadian perkara. Jarak dari asrama ke TKP
sekitar 700-800 meter.
Hal yang sama di
katakan oleh kedua Mahasiswa (Lazarus Lambe dan Semi Lambe) Awal mula tujuan ke
ATM BRI, tepatnya di pangkalan ojek atau
di depan ATM Bank Sulut. Disana kami bertemu dengan seseorang yang mengaku diri
keamanan disekitar situ, untuk menyuh kami pulang. Sehingga kami pun bertujuan
untuk kembali ke asrama, bersamaan
dengan itu ada teman kami yang datang mengunakan mobil. (Wedison) mereka
menggunakan Mobil Avanza, kami kembali ke asrama Kamasan VI Tondano, sewaktu
dalam perjalanan menuju asrama tepatnya di selokan sungai JEMBATAN KUNING,
karena pada saat itu saudara (S) topinya tertiup angin hingga jatuh dan maksud kami
untuk mengambil topi (Semi L) yang terjatuh.
Sekitar jam 03.15
WITa
Pada saat mereka
menggambil topi tersebut kemudian ada suara orang yang tidak dikenal, karena
gelap, dia berkata “KIAPA NGANA” (Kamu kenapa), bersamaan dengan itu ada
sekitar 7 orang lainnya, mengejar kami
berdua (Lazarus Lambe dan Semi Lambe) ketika kami berusaha untuk menghidar atau
berlari kemudian mereka mengejar kami (Lazarus dan Semi) , dan ada yang menggunakan motor. Yang
mengunakan motor yang menyelip di depan kami, mereka melakukan penganiyaan
(menendang Sendi Lambe dan terbentur Lazarus, lalu kami berdua jatuh, kata Lazarus),
kemudian kami berdiri namun mereka memukul kami mengunakan tangan, kemudian
kami berlari dan terpencar ketakutan dan ada yang mengancam kami mengunakan
pisau dan Pedang. Sehingga saya (Lazarus) berlari menuju persawahan warga, dan
adik saya (Semi) berlari menuju ke sekitar area Asrama Raja Ampat, ada seorang
ibu yang melihat saya dan menyuru saya masuk kedalam asrama.
Sekitar jam 03.45
WITa
Saya (kata Lazarus)
berada di tempat persawahan disana sekitar 30 menit, kemudian saya mendengar
ada beberapa suara dan saya kenal kalau itu teman-teman mahasiswa papua dari
asrama Kamasan VI. Sehingga saya berani keluar dan menemui mereka dan mereka
menyuruh saya pulang ke asrama kamasan.
Sekitar jam 03.45
WITa
(Semi) Sewaktu di
asrama raja ampat saya bersembunyi, disana ada seorang ibu diasrama yang
melihat saya, sehingga ibu itu mengatakan masuk ke dalam rumah (asrama raja
ampat). Setelah sekita 25-30 menit berlalu, saya mendengar ada suara teman-teman
mahasiswa papua mereka mencari saya sehingga saya memberanikan diri untuk keluar
dengan maksud menemui mereka. Saya mengambil motor pada saat yang sama, saya
mendengar ada yang menghunus Pedang di atas aspal (sebelah Barat) sehingga saya
meninggalkan motor dan saya merapatkan barisan bersama dengan teman-teman
asrama.
Sekitar jam 04.00
WITa
Rombongan I. Teman
Kami (Frans Jikwa) Pada yang menuju ke depan pertigaan jalan Tataaran. Karena
pada waktu itu anak-anak tidak berhasil bertemu dengan kedua teman (Lazarus dan
Semi) sehingga anak-anak MELAMPIASKAN
KEMARAHAN MEREKA “secara spontanitas ke rumah-rumah warga”). Rombongan ke II mahasiswa
asrama kamasan yang bertemu dengan mereka tak lebih dari 15 menit mereka
menyusul Rombongan I (Pertama), rombongan ke II ini, yang bertemu dengan kedua (Lazarus
dan Semi)
Sekitar jam 04.00
wita
Warga TATAARAN mulai
berkumpul satu persatu dan semakain banyak, warga tataaran dengan membawa benda
tajam (Pedang, parang dan Tombak) maupun benda tumpul (Kayu, besi dan Batu),
Disitu juga ada anggota kepolisian yang ikut bergabung bersama masyarakat dan
melempari mahasiswa papua di RUAS JALAN JEMBATAN KUNING tersebut.
Pada saat
Bentrokan antara Warga Tataaran versus Mahasiswa papua, pada saat itu saudara (sdr.Lazarus)
keluar dari barisan sehingga dia (sdr Lemius) terkena goresan pedang dengan
luka berat warga tataaran. Teman-Teman Mahasiswa Papua berupaya untuk menyelamatkan
sdr. Lemius, serta ditandu menuju asrama, semua teman-teman di asrama melihat
(sdr.lemius) yang bersimbah darah mereka tidak menerima perlakukan warga
tataaran.
ALMAHRRUM PETIUS
TABUNI melihat keponakannya (sdr.Lemius Jikwa) berlumuran darah, maka Almahrum tidak
menerima kenyataan (Pamanya di pukul dengan Balok oleh warga tataaran), Almahrum
marah dan bersama-sama dengan Mahasiswa di Asrama menuju kerumunan warga
Tataaran di depan ruas jalan Tataaran, Kejar kejaran antara warga Tataaran vs mahasiswa
papua silih berganti saling menyerang dimana Warga Tataaran mengunakan beberapa
alat tajam (Pedang, Parang, pisau dan Tombak dan alat tumpul lainnya (tidak
bisa dipastikan), sehingga mahasiswa papua terdesak mundur ke asrama kamasan VI.
Disana semua warga Masyarakat Tataaran sudah berkumpul dengan maksud mereka
masuk dan menyerang Mahasiswa Papua yang berada di asrama kamasan VI, jumlah
yang saat itu mengikuti syukuran dan acara wisuda dan terjebak dengan keadaan
penyerangan warga tataaran berjumlah 447 orang, itu terdiri dari mahasiswa
papua yang berkuliah di Tondano, Tomohon dan Manado.
Di Asrama Kamasan
semakain banyak warga Tataaran yang sudah berkumpul dan melempari Asrama
Kamasan VI dengan Batu, mereka juga mempersenjatai diri dengan benda tajam (Panah
wayang, Pedang, Parang, Pisau, Tombak), benda tumpul (Kayu, Batu, Besi) ada
yang menggunakan senapang angin. Pengepungan ini, terjadi hingga siang hari sekitar
jam 11.00 WITa. Warga Tataaran juga mengintimidasi Mahasiswa Papua di semua asrama
kabupaten-kabupaten/Kota se tanah papua lainnya yang berlokasi di Wilayah
Tataaran, hingga akhirnya polisi silih berganti menjemput mahasiswa di tiap
asrama. Polisi juga mengamankan asrama-asrama kabupaten-kabupaten/kota yang
berada di Tataaran. Ketika semua mahasiswa yang diungsihkan sementara di asrama
Putra Kamasan VI di perkirakan berjumlah 600an orang mahasiswa papua yang
berada di Tondano, dimana mereka semua berkuliahan di UNIMA Tondano.
Oleh: P.Lokon
Langganan:
Komentar (Atom)






