Tampilkan postingan dengan label imipa sulut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label imipa sulut. Tampilkan semua postingan
Kamis, 06 Agustus 2015
09.43
Admin
imipa sulut, Mahasiswa
No comments
Tondano, IMIPA-Ikatan Mahasiswa Indonesia papua IMIPA Cabang Tomohon telah melaksanakan kegiatan Penerimaan Anggota baru 2015/2016 di Asrama Kamasan VIII Tomohon, Kelurahan Talete II, Kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon. pada 6 Agustus 2015, dan Sesalkan karena Penerimaan aggota tahun ini sangat jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.
IMIPA Cabang Tomohon Secara Resmi Menerima Anggota baru tahun 2015 sebanyak 26 Orang, dan mereka ini tersebar dari mahasiswa Baru, 11 Orang Mahasiswa Lama namun yang tidak ikut tahun 2014 Lalu.
.
Ketika Kami Wawancara dengan Ketua Imipa Cabang Tomohon Agustinus Kanggoro, Mengatakan Bahwa Kami sangat menyesalkan tidakan kasus kriminal lalu di Tataaran kabupaten Minahasa, Kejadian 19 Oktober 2014, yang mana mahasiswa Asal Papua Petius Tabuni Korban Pembacokan. Terkait dengan itu maka mahasiswa Papua semua mereka memilih untuk tetap Kuliah di Papua dan Kota studi lain di luar sulawesi Utara.
Jau-jauh sebelum setiap kali penerimaan kami menerima Keanggota baru dalam Organisasi IMIPA jumlahnya 50 Lebih namun tahun 2015 ini sangat menurun drastis, karena Trauma sehingga selain sudah pulang, dan yang lain memeilih Kuliah di tempat lain dengan alasan sulawesi utara tidak nyaman.
Tambah Agustinus, Ya Begitu Namun kami tidak pata semangat kita untuk tidak melaksanakan Kegiatan penerimaan Aggota baru tahun 2015, tetapi kami tetap obtimis dan terus dengan semangat kami laksanakan Kegiatan Penerimaan, Jelasnya.
Saya sangat bangga dan berterima kasih Kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas Berkenannya sehingga kami Boleh Melaksanakan kegiatan ini, saya juga sangat berterima kasih kepada Teman-teman TIM walaupun Jauh sebelumnya kami sudah bentuk dengan Tujuan Pengurus yang ambil Bagian, sehingga atas kerja keras tak begitu waktu yang lam hanya selama 2 Hari dalam persiapan kegiatan ini berhasil sukses dengan baik, tuturnya.
Sebenarnya kami buat pada bulan Juli namun ada beberapa kendala sehingga TIM yang kami bentuk berusaha keras dengan cara begimaan Kegiatan ini sukses, kami sangat tidak sangkah kalau kegiatan terjadi seperti ini karena kami tidak Fokus dalam pencarian dana. saya menyampaikan terima kasih kepada Wakil Ketua IMIPA Yotam. B, yang Koordinir dan Amelia D, Inna yang membantu kerja sama kegiatan Sukses sesuai yang kita harapkan.
Yotam, dari Bulan Juli Tanggal belasan di tunjuk kapada saya untuk menjalankan Roda Kepanitian Penerimaan Anggota Baru 2015, sehingga kami selama 3 pada bulan Agustus ini kami bekerja keras sehingga Puji Tuhan Kegiatan ini bisa terlaksana sesuai dengan yang kita harapkan bersama.
Dalam Kepanitiaan ini juga banyak tantangan tetapi Tuhan Luar biasa karena kita dan teman-teman seperjuangan Ikatan Indonesia Papua (IMIPA) begitus luar biasa topang kami dengan dana, Tenaga, Pikiran, begitu luar biasa membantu kami sehingga kegiatan penerimaan Agnggota Baru bisa Berjalan Baik Untuk itu kami TIM Menyampaikan terima kasih kepada kawan-kawan. Ujarnya.
Harapan saya melalui Penerimaan Anggota Baru diterima hari ini bisa ketika ada kegiatan Organisasi bisa ambil bangian dan bisa terlibat dan bisa belajar kepemimpinan di Organisasi Ikatan Mahasiswa Indonesia Papua (IMIPA). dan diucapkan terima kasih kepada seluruh mahasiswa Papua yang ada dari Sorong Sampai Samarai atas kerja kerasnya kegiatan ini bisa berjalan baik. (Suara Pasema).
Jumat, 16 Januari 2015
09.53
Admin
Home, imipa sulut
No comments
Manado –IMIPA - Guna mempersiapkan terselanggaranya Musyawarah Umum Anggota Ikatan Mahasiswa Indonesia Papua (IMIPA) Sulawesi Utara, pada tanggal 19 April 2013 bertempat di Asrama Mahasiswa Jayapura, Badan
Pengurus Pusat (BPP) IMIPA melantik Panitia Kerja yang nantinya akan menyelenggarakan Musyawarah Umum Anggota. Panitia yang terdiri dari 5 (lima) pengurus inti dan diketuai oleh Yandiles D. Weya dengan Sekretaris Jhonny M. Wororik dilantik oleh Sekretaris Umum BPP IMIPA Elius Enembe. Acara pelantikan yang dimulai sejak pukul 14.00 Wita tersebut dihadiri oleh sekitar 400an mahasiswa Papua yang mewakili 49 asrama mahasiswa Papua yang tersebar di seluruh Sulawesi Utara.
Pengurus Pusat (BPP) IMIPA melantik Panitia Kerja yang nantinya akan menyelenggarakan Musyawarah Umum Anggota. Panitia yang terdiri dari 5 (lima) pengurus inti dan diketuai oleh Yandiles D. Weya dengan Sekretaris Jhonny M. Wororik dilantik oleh Sekretaris Umum BPP IMIPA Elius Enembe. Acara pelantikan yang dimulai sejak pukul 14.00 Wita tersebut dihadiri oleh sekitar 400an mahasiswa Papua yang mewakili 49 asrama mahasiswa Papua yang tersebar di seluruh Sulawesi Utara.
Ketua Panitia terpilih, Yandiles D. Weya kepada wartawan mengatakan bahwa panitia yang terbentuk dan telah dilantik akan bekerja keras dalam dua bulan kedepan demi mempersiapkan Musyawarah Umum Anggota IMIPA di Kota Manado.
“Kami mempunyai tugas utama untuk mempersiapkan Musyawarah Umum Anggota yang nantinya akan memilih pengurus BPP IMIPA yang baru, kemungkinan akan dilaksanakan pada dua bulan kedepan.” Tutur Yandiles.
IMIPA merupakan sebuah organisasi tingkat Mahasiswa Papua. Sepertimyang diketahui, Sulawesi Utara menjadi salah satu tujuan pendidikan penting bagi Mahasiswa-mahasiswa asal Papua. Tercatat ada ribuan
mahasiswa yang menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi di Sulut dengan total asrama sekitar 49 asrama Mahasiswa di Manado dan sekitarnya. (Tr-01)
mahasiswa yang menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi di Sulut dengan total asrama sekitar 49 asrama Mahasiswa di Manado dan sekitarnya. (Tr-01)
Beritamanado.com Update
Editor : Suara Pasema
Minggu, 23 November 2014
07.17
Admin
Home, imipa sulut
No comments
Asrama Mahasiswa Papua Di Makassar Diserang, 1 Orang Ditikam
MAKASSAR- Asrama mahasiswa Papua yang terletak di Jalan Mappala, Kecamatan Rappocini, diserang sejumlah orang tak dikenal dini hari. Akibatnya, satu penghuni bernama Carles Sihumbi terkena tikaman di bagian perut dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit Faisal untuk mendapat perawatan medis.
Informasi yang diperoleh, penyerangan sejumlah kelompok tak dikenal ini mengakibatkan kaca jendela bagian depan asrama yang dihuni belasan mahasiswa asal Papua pecah berantakan.
Kejadian itu dipicu dua pengendara sepeda motor melintas di depan asrama Papua dan langsung dicegat dan dipukuli oleh mahasiswa Papua tersebut yang dalam keadaan mabuk lantaran menduga jika kedua pengedara itu adalah pelaku pencurian yang selama ini mereka cari.
Tak terima dipukuli dan motornya disandera, dua pemuda tersebut kemudian memanggil rekannya dan melakukan penyerangan balasan dengan menggunakan badik dan batu. Kedua kubuh pun terlibat bentrok hingga aparat Kepolisian Sektor (Polsek) Rappocini tiba di lokasi kejadian.
Menurut penghuni asrama Papua, Mona Kosari bahwa sudah banyak barang berharga milik penghuni asrama Papua yang dicuri oleh pelaku. Dari beberapa korban sudah tiga laptop, handphone, bahkan motor kehilangan.
“Kami sudah sering melapor ke bapak polisi tapi tidak respon sama sekali dan terpaksa kami bergerak sendiri,” kata pria berambut Gibal yang kuliah di Universitas 45 Makassar, Minggu (23/11/2014)
Sementara itu, Kompol Ade Hermanto, yang dihubungi membenarkan peristiwa itu dan pihaknya masih melakukan penyelidikan atas penyerangan itu.
“Benar peristiwanya itu sekitar pukul 03.00 Wita. Jadi kami mendapat laporan jika ada pertikaian di Jalan Mappala, antara warga dan penghuni asrama Papua. Ada dua sepeda motor yang sempat disandra namun kami cepat sterilkan situasi, dan sementara dalam proses lidik,” ujarnya.
Sumber dari : OkeZone
Sumber Dari : Kompasiana
Kamis, 20 November 2014
16.42
Admin
Home, imipa sulut
No comments
Kritikan
Terhadap Pemerintah Dan Masyarakat Sulawesi Utara
Kiriman Dari Mahasiswa Papua Yogyakarta Peduli
Mahasiswa Papua Di Manado Sulawesi Utara
![]() |
| Pedul Mahasiswa Papua Di Sulawesi Utara Oleh IPMA Papua di DIY |
Paska Bentrokan
minggu dini hari, jam 02.30 wita di Tataaran Tondano sulawesi utara, yang
mengakibatkan hampir seribu mahasiswa tanah papua yang berada di sulawesi utara
harus secepatnya, meninggalkan provinsi tersebut. Langkah gubernur SULUT (Sinyo
Harry Sarondajang) pada tanggal 23 oktober 2014, di nilai terlalu
terburuh-buruh dan mendesak semua pihak untuk sepakat. Langkah ini terlalu jauh
dari optimis yang ada pada benak semua mahasiswa papua yang berpendidikan di
provinsi ini.
Keterpaksaan,
inilah yang tepat di katakan oleh semua mahasiswa papua sulut, hal tersebut
dibenarkan dalam penyampaian pernyataan pengurus pusat IMIPA SULUT yang
disampaiakn pada tanggal 27 oktober 2014, di hadapat tiga belas wartawan lokal
dan regional sulawesi. Pada tanggal 28 oktober 2014 tak ada satupun media yang
mempublikasikan hasil penyampaian sikap IMIPA SULUT tersebut.
Sejak Bentrokan
(19/10/14 – 20/11/14) sudah satu bulan, jangka waktu yang amat panjang untuk
proses pembiaran permasalahan untuk diselesaikan oleh semua pihak, baik
pemerintah sulawesi utara maupun pemerintah provinsi papua serta papua barat.
Dan sangat tepat
apabila ada proses penguluran terhadap penyelesaian masalah yang di alami oleh
mahasiswa papua di sulawesi utara. Tak ada jaminan yang bisa di percaya untuk
mahasiswa papua di Tondano dalam melakukan aktifitas perkuliahaannya. Bercermin
dari hasil pertemuan (23/10/14) rekonsiliasi pernyataan yang masih dapat di
ragukan. Ada beberapa pernyataan yang tidak rasional atau substansi masalahnya
tidak jelas diantaranya.
1. Dalam
rekonsiliasi ini, tergantung dari pada teman-teman papua apakah mau
menandatangani atau tidak? Kata “Sinyo Harry Sarondajang”
2. Orang
tataaran itu baik-baik, semuanya ramah (Welcome) apabila tidak demikian, maka
tentu saya “ Sinyo Harry sarondadjang” tidak bisa menjadi gubernur sulut.
3. Saya “Sinyo
Harry sarondadjang” sudah menelepon dan menyampaikan kepada gubernur papua “
Lukas Enembe”. Karena Lukas Enembe itu adik tingkat paska sarjana di
Universitas Sam Ratulangi. Dan Bram O Atururi adalah Adik Angkatan saya. Tandas
“ Sinyo Harry Sanrondajang” Gubernur Sulut.
Berdasarkan 3 point
diatas maka dipastikan tak ada etikat yang baik dalam menyelesaikan masalah
oleh pemerintah provinsi sulawesi utara, berdasarkan fakta dan bukti yang
menguatkan. Pihak mana yang benar dan siapa yang merasa dirugikan. Hal ini bisa
dipastikan ketika team audiense IMIPA SULUT berangkat ke jayapura (02/11/14) lalu
dengan maksud menemui Gubernur Provinsi Papua, namun justru di tangani oleh
Asisten I Pemprov.Papua.
Setelah empat hari
sejak pertemuan yang di fasilitasi oleh KNPI Provinsi Papua, maka utusan
gubernur papua ke SULUT untuk memastikan kondisi mahasiswa papua di manado dan
sekitarnya. Kedatangan Asisten I ke Manado pemprov papua tidak bersama-sama
dengan team audience IMIPA SULUT namun perjalanan mereka terpisah. Kedatangan
Asisten I Pemprov Papua guna memastikan kondisi di lapangan. Teringat hal yang
sama dilakukan oleh Gubernur Sulut, pada tanggal 20/10/14 di Tataaran. Gubernur
melakukan pemantauan langsung ke lokasi kejadian dan bahkan menginap di
Tataaran-Tondano.
Faktor Pendekatan Emosional dan Keluarga.
Langkah yang
dilakukan oleh Gubernur dalam proses pendekatannya di Tataaran. Secara rasional
suatu tujuan yang positif apabila dikatakan tepat maka hasilnya sebagai berikut
:
1. Aktor utama
dalam provokasi yang berakibat pada pembunuhan terhadap almahrum Petius Tabuni
pada bentrokan yang melibatkan Masyarakat Minahasa di Tataaran-Tondado, bisa
dapat ditangkap oleh POLDA SULUT.
2. Perusakan
yang dikarenakan pelemparan batu oleh Mahasiswa Papua di Tondano pra pembunuhan
tragis almahrum Petius Tabuni, bisa ada tuntutan yang jelas dan nyata dari
pihak-pihak masyarakat tataaran yang dirugikan.
3. Sebelum
adanya pertemuan untuk menghadapkan kedua belah pihak yang berkonfrontasi tidak
bisa di pertemukan secepat itu (empat hari setelah bentrokan), harusnya ada
team yang mendahului untuk melakukan konsolidasi guna menyepakati, draft
kesepakatan dan draft tuntutan (ganti rugi) sehingga prosesnya tidak terkesan
pemaksaan.
4. Jaminan
keamanan yang mutlak tanpa ada gangguan apapun, baik intimidasi ataupun teror
terhadap mahasiswa papua yang berkuliah di Sulawesi Utara.
PEMPROV SULUT : Mestinya Punya Etika dan Menyampikan Permohonan maaf
dan Bertanggung Jawab kepada Mahasiswa dan Masyarakat Papua.
Sepengal foto
korban Almahrum Petius Tabuni bisa diartikan dengan Pemotongan Buruan Liar yang
ganas. Sangat menyedihkan, bukan hal yang wajar dan disepelehkan.
Dengan Mengumpulkan
semua jajaran MUSPIDA Provinsi Sulut bukan merupakan solusi dan jaminan
kepercayaan dari individu mahasiswa maupun organisasi IMIPA Sulut, bahwa
jaminan keamanan dan tujuan baik untuk penyusutan bentrokan tersebut dapat
diselesaikan.Pentingnya Masyarakat Minahasa di SULUT dan Pemerintah Provinsi
SULUT harus lebih pro aktif dalam melindungi Umat TUHAN, yang mana SULUT
merupakan Kota Jutaan Hamba-Hamba Tuhan dan Ribuan Gereja sebagai Tubuh
Kristus. Ini sangat ironis dengan kota-kota lainnya di Indonesia, katakanlah
contoh; Papua adalah Tanah Tuhan yang melindungi semua suku bangsa dan agama; Yogyakarta
adalah Kekratonan yang melindungi semua mahasiswa dari berbagai lapisan etnis
dan ras (plural). Di papua semua orang kristen dan semua orang muslim di
lindungi, bukan pemerintah dan penegak hukum yang melindungi, namun semua
masyarakat papua dengan kesederhanaan kekristenan mereka, masyarakat papua merasa
bertanggung jawab terhadap kehidupan serta keselamatan dalam aktifitas semua
orang yang berdomisili tetap maupun tak tetap disana.Dari Ulasan singkat di
atas seharusnya Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara serta Masyarakat Minahasa
seharusnya melindungi dan menjaga keselamatan mahasiswa papua yang berdomisili
di provinsi sulawesi utara.
Petingnya Restorasi dalam Mainset Kehidupan Masyarakat Sulawesi Utara
Tanan dalam
kehidupan sebagai manusia kristen yang memiliki satu bangsa saat ini, Mestinya
Pembenahan dalam struktur kehidupan sosial haruslah di prioritaskan oleh
Gubernur Sulawesi Utara. Pendampingan dari lembaga Swadaya Masyarakat dan NGO
harus diterima dengan tujuan menrestorasi semua sendi-sendi kehidupan
masyarakat Minahasa untuk bisa memiliki tata krama serta tujuan kehidupan yang
menghidupi orang lain. Penyesalan bukan datang dari hadapan kita namun
penyesalan itu terjadi kemudian. Selain sektor Agro dan Kosmo Wisata, Sumbangan
para pendatang yang bermukim sementara di provinsi ini, yang nota bane adalah
Pelajar maupun mahasiswa merupakan penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi
provinsi nyiur melambai ini. Sehingga Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara
pentingnya berbenah, jangan menjadikan semboyang “ Karena Kita Basodara”
jadinya kita Ba Mengerti dan Ba Atur”. Jangan bagitu Jo.
Kronologi Manajemen Konflik
Paska Bentrokan
Mahasiswa Papua vs Masyarakat Minahasa, Tataaran Tondano (Langkah guna menyelesaikan
masalah)
(19/10/14)
Bentrokan antara Mahasiswa Papua vs Masyarakat Tataaran-Tondano Sulawesi Utara.
(19/10/14)
Penyekapan Seantero Mahasiswa Papua yang melakukan aktivitas pendidikan di
Unima dan kampus lainnya di tondano, yang bertempat di Asrama Kamasan VII
Tondano. Yang berjumlah 447 orang.
(20/10/14) Demo
Mahasiswa Papua (IMIPA SULUT) di Gedung Pemprov Sulawesi Utara, Kantor
Gubernur. Guna meminta pelepasan terhadap mahasiswa Papua yang disekap di
Asrama Kamasan Tondano.
(20/10/14) Bantuan
DINSOS Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dikirimkan ke Asrama Kamasan Tondano.
(20/10/14)
setidaknya ada sekitar 200 mahasiswa papua di Sulawesi Utara Pulang ke Papua
menggunakan Kapal, Km.Tatamailau.
(20/10/14
-22/10/14) Gubernur Sulawesi Utara (Sinyo Harry Sarondajang) berada di Tondano
untuk merespon masalah melakukan pendekatan kepada masyarakat Tataaran-Tondano.
(22/10/14) Info
lisan KESBANG Pemprov Sulawesi Utara, pada jam 21.00 WITa untuk Proses
Rekonsiliasi, paska Bentrokan.
(23/10/14) pada jam
10.30 Wita, Rombongan mahasiswa Papua di Manado di kawal ketat oleh Aparat
Kepolisian dan berangkat dari Manado menuju Tondano untuk rapat Rekonsiliasi.
Dan Hasil rekonsiliasi tidak di tanda tanggani oleh IMIPA SULUT.
(24/10/14 –
26/10/14) Mahasiswa yang disekap di bebaskan oleh petugas aparat
kepolisian metro Minahasa, untuk turun
ke Manado.
(24/10/14) Anggota
DPD Sulut ( Maya Rumantir) berkunjung ke Asrama Mahasiswa Kamasan VII melihat
kondisi mahasiswa di sana sekaligus memberikan bantuan makanan.
(25/10/14) Penikaman
terhadap mahasiswa Tanimbar di Tondano, berdekatan tempat dengan asrama kamasan
VII Tondano.
(27/10/14)
Konferensi Pers Oleh IMIPA SULUT, dalam Penyampaian sikap guna merespons
rekonsiliasi yang tidak di tanda tanggani oleh IMIPA SULUT
(28/10/14) Pemantauan
Mahasiswa Papua di Sulawesi Utara terhadap Pemberintaan media massa setelah
penyampaian sikap ke pers pada (27/10/14). Dimana tidak ada Pemberitaan sedikitpun,
mengenai Penyampaian Sikap IMIPA SULUT di media. “Media tidak mempublikasikan
Pernyataan Sikap Organisasi IMIPA SULUT.
(28/10) Surat ke
Perguruan Tinggi se-Sulawesi Utara guna Absensi Bebas (Pemogokan Kuliah) bagi
keseluruhan mahasiswa papua di Sulawesi Utara.
(02/11/14) Pengurus
IMIPA SULUT berangkat ke jayapura, untuk menyampaikan permasalah yang terjadi
di sulawesi utara, kepada Pemprov.Papua di Jayapura
Semoga Kritikan ini
bisa di asumsikan sebagai semangat Tujuan yang mulia untuk memperbaiki, tatanan
dalam hidup pada kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik.
Oleh Boy Jen Paririe (Mahasiswa Papua-Yogyakarta)
13.58
Unknown
Home, imipa sulut
No comments
| Ini Foto Bantu Yang Di Lempar Kepada Mahasiswa Papua Di asrama Kamasan V Manado, Sulawesi Utara |
| Ini Foto Bantu Yang Di Lempar Kepada Mahasiswa Papua Di asrama Kamasan V Manado, Sulawesi Utara |
SYALOM DAN SALAM IMIPA. Info Terkini
Di Asrama Kamasan V Manado Terjadi Pelemparan Batu Ke arah Asrama, Namun karena adanya Bambu sehingga Batu terpantul dari Bambut Kuning Ke Terpal Karena Kekuatan pelemparan Batu Besar tersebut sudah di Tahan sedikit Oleh Bambu, dan Puji Tuhan Untuk kejadian ini tidak ada yang kena.
saat itu Mahasiswa yang tingggal di Asrama kamasan V sedang duduk-duduk di bawa Tepal ada lag yag sedang Nonton di Laptop..
Ini terjadi pada tanggal 21 November 2014 Oleh (OTK) Orang Tak Di Kenal, mereka Orang Asal Manado Sulawesi Utara Namun siapa Mukanya dan Plat No Kendaraan yang mereka Mengendarai 2 Motor Tersebut, Masing-masing 2 Orang Per Motor tersebut.
dan saat kejadian ini hampir saja OTK mereka hampir mengenai Mahasiswa Papua yang saat itu lagi duduk-duduk di Asrama.
Dan Mahasiswa Papua pun kaget dan semuanya kepanikan lalu mengejar Pelaku OTK mereka dengan Motor untuk Memastikan Pelaku yang melepar batu di Asrama Kamasan V Manado.
Kasus Masih bisa saja terjadi hal yang sama dialami Oleh Mahasiswa Papua di asrama Kamasan V Manado maka IMIPA sangat menggharapkan Kepada Seluruh Anggota Mahasiswa Se sulut untuk tetap Waspada dan Siaga SATU.
Sebelum Hujan Siapkan Pajung Demikian Juga Sebelum Terjadi Sesuatu yang tidak di Harapkan Oleh Kami Semua tetap Untuk jaga diri dan jangan Jalan Malam Sendirian.
Terima kasih Demikian Informasi Terniki.
Senin, 17 November 2014
Minggu, 16 November 2014
02.47
Admin
Home, imipa sulut
No comments
Pengungsian Mahasiswa Papua di Kota Tondano, Tomohon ke
Manado
Pada tanggal 24-25 oktober 2014, semua mahasiswa papua
(sebanyak lebih dari 600 orang) di Tondano, (sebanyak lebih dari 300 orang) di Tomohon mengungsi sementara di asrama
cendrawasih putri Manado dan asrama kamasan V Manado, sebagian pengungsian
lainnya yang memiliki asrama kabupaten untuk sementara di ungsikan di asrama
kabupaten mereka yang berada di kota Manado. Sedangkan yang tidak memiliki asrama kabupaten di
tempatkan di asrama kamasan dan asrama putri cendrawasih, manado.
Selain harapan di
atas, keadaan pada saat ini, sangat membutuhkan bantuan makanan, karena sejauh
ini, bantuan makanan sudah tidak ada. Beberapa bantuan makanan yang di berikan
oleh Dinas Sosial Sulawesi Utara, Contohnya Beras, sudah tak layak konsumsi.
Seorang Anggota Dewan Pimpinan Daerah Sulawesi Utara (Maya Rumantir) sempat
melakukan kunjungan ke asrama dan membagikan mereka makanan dan snack.
02.14
Admin
Home, imipa sulut
No comments
![]() |
| Add captionYemto-Tabo-dan-Fentom-O.-Salossa-bersama-pengurus-IMIPA-Sulut (P. Lokon) |
PERNYATAN SIKAP
Tepatnya tanggal 27
senin, BPH IMIPA PUSAT mengundang semua wartawan lokal dan regional untuk hadir
dalam penyampaian statment pernyataan sikap IMIPA-SULUT, untuk menyikapi
permasalaha ini :
1.Kepada bapak Gubernur Sulawesi Utara untuk
menghadirkan orang tua kami yaitu
Gubernur Papua & Papua Barat agar segera dihadirkan diatas tanah
ini;
2. Kepada Bapak Kapolda Sulawesi Utara untuk
segera dan secepatnya mengungkap pelaku pembunuhan secara tidak bermartabat
terhadap Alm. Petius Tabuni selambat-lambatnya satu minggu;
3. Acara proses penandatanganan kesepakatan
perjanjian damai antara masyarakat tataaran kecamatan tondano selatan dan
mahasiswa asal papua pada tanggal 23 oktober 2014 belum sempurna, bersifat
sepihak dan sangat memaksakan;
4. Kami sudah menarik seluruh mahasiswa asal
papua yang berstudi dan berdomisili di tondano, tomohon, kairagi, poli ke manado
di as. Cendrawasih V manado;
5. Kami mahasiswa papua yang berstudi di Sulawesi utara baik
negeri/swasta tidak akan melaksanakan aktivitas perkuliahan selama tuntutan
kami belum terpenuhi;
6. Jika point
satu, dua, tiga, empat dan lima belum dilaksanakan maka point keenam dalam
pernyataan sikap tentang Eksodus Atau
Pulang secara besar-besaran ke tanah suci di bumi cendrawasih tetap berlaku
dan dengan catatan warga Minahasa di seluruh daratan tanah Papua harus pulang.
Pada tanggal
28/11/14, Dari hasil pemantauan mahasiswa Papua di Manado dan sekitarnya
terhadap media-media yang di undang. Hanya ada dua media masa yang berani
mengeluarkan statment “Pernyataan IMIPA SULUT terkait bentrokan tersebut.
Selain itu ada kronologi Bentrokan yang di kumpulkan oleh Team Investigasi
IMIPA-SULUT. Memang sangat ironisnya, Media Di Bungkam Oleh Pemprov Sulut terhadap
Hasil Jumpa Pers, IMIPA SULUT terkait pernyataan dan kronologi yang mereka
himpun.
01.52
Admin
Home, imipa sulut
No comments
![]() |
| Kesalahan Media Di Sulawesi Utara 1 (P. Lokon) |
![]() |
| Kesalahan Media Di Sulawesi Utara 2 ( P. Lokon) |
Kesalahan Media Di
Sulawesi Utara Terhadap Mahasiswa Papua Di Sulawesi Utara
Hal yang
sangat mengejutkan semua mahasiswa papua di Sulawesi Utara adalah Media masa
Nasional dan Lokal di wilayah SULUT memberitakan pada tanggal 24 oktober 2014
terjadi perjanjian damai antara Mahasiswa Papua dan Warga Tondano Pataaran dan
Pataaran patar.
Pemantauan Dari
Rekan “Boy P” pada pertemuan tersebut, “Perlu di pahami bahwa De Facto BPH
IMIPA SULUT dan Cab.Tondano, Cab.Tomohon memang berdamai, namun tidak dilakukan
penandatanganan, Karena persoalan yang terjadi adalah bukan oknum personal
karena miras tetapi berdasarkan Investigasi Imipa Sulut, awal mula
pertikaian karena kedua kawan mereka di halau oleh motor yang mengakibatkan
mereka di pukul dan di kejar” sehingga permasalahan ini dikatakan sebagai
tindakan usur kesengajaan yang terencana. Mereka BPH IMIPA sulut menolak dan
mengatakan berikan mereka waktu, secepatnya tiga hari untuk menyatakan sikap
mereka. Sejak pertemuan di Ruang Aula FIS, dimana ada yang sangat aneh dalam
proses pertemuan tersebut karena dalam undangan Rapat Rekonsiliasi, namun
kenyataan pada saat pertemuan bukan rapat tetapi pemaksaan penananda tanganan
Perdamaian, “Kata Ketua” Yemto Tabo ,di dampingi “Badan Pengurus Harian
IMIPA-SULUT Rapat rekonsiliasi ini, seakan-akan dipaksakan, karena isi undangan
bedah dengan pada saat pertemuan berlangsung.
Hasil Laporan Dari Boy P dan P. Lokon
01.37
Admin
Home, imipa sulut
No comments
![]() |
| Proses Rekonsiliasi (Oleh P. Lokon |
“Proses Rekonsiliasi” Paska Bentrokan Di Nilai Tergesah-Gesah Dan Di
Paksakan Sepihak Oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara.
Sejak peristiwa
pada tangal 19 oktober 2014, Gubenur menfasilitasi masyarakat tataaran Tondano
dan IMIPA Sulut untuk melakukan langkah rekonsiliasi pada tanggal 23 oktober
2014, semuanya di atur sangat rapi, pada
tanggal 22 Oktober 2014, malam sekitar jam 21.00 wita, KESBANG SULUT menelepon
ketua IMIPA SULUT (Yemto Tabo), menyampaikan Undangan tersebut.
Pada pagi hari
sekitar jam 08.00 wita, undangan fisik dari Pemerintah Provinsi SULUT di
berikan ke sekertariatan IMIPA SULUT. Tiga jam kemudian, pada jam 10.00 wita,
Polda menyiapkan kendaraan (DALMAS) sebanyak 2 unit, dikawal dengan anggota kepolisian
berseragam lengkap, para polisi bersiap di depan asrama Kamasan V Manado untuk
mengakomodasi Mahasiswa (Badan pengurus IMIPA-SULUT) ke UNIMA Tondano. Tepat jam
11.00 wita, pada siang itu kendaraan mulai beriringan menuju Tondano, tidak
melewati jalan tempat TKP namun melewati jalan Boulevard-Tondano kemudia ke
arah timur menuju Gedung AULA FIS UNIMA. Kesibukan di gedung tersebut terlihat
rapi dan terisolir karena di jaga dengan aparat keamanan super ketat.
Badan Pengurus
Pusat IMAPA-SULUT turun dari kendaraan tersebut, disana belum ada Badan
Pengurus IMIPA Cab.Tondano, sehinga silih berganti saling menelepon antara
Badan Pengurus Pusat IMIPA-SULUT dan Badan Pengurus IMIPA Cab.Tondano.
Tawar menawar
melalui telepon celluler, yang akhirnya
semua Badan Pengurus IMIPA PUSAT memaksa untuk pergi ke Kamasan VI Tondano,
yang jaraknya sekitar satu kilometer, agar ada
musyawarah bersama untuk menyepakati langkah bersama yang di ambil oleh
semua komponen IMIPA-SULUT, Rombongan IMIPA-SULUT akhirnya pergi dan bertemu
dengan semua mahasiswa dan mahasiswi yang di sekap oleh pihak keamanan Minahasa
itu.
Setelah Pertemuan antara BPH IMIPA Pusat
SULUT dan BPH IMIPA-Cab.Tondano, tak bisa tertahankan ketika IMAPA Pusat Manado
turun dari kendaran DALMAS milik POLDA SULUT, Rasa tangispun tak tertahankan,
dimana keluarga korban, sanak saudara, dan teman-teman alm. Petius Tabuni, menangis, sayup-sayup terdengar, tangan di dada
mereka di dahi mereka, tampak situasi yang tegang berubah menyedihkan. Situasi
berubah semangat ketika IMIPA-Pusat Manado meneriakan Yel-Yel, “Papua (HIDUP),
Papua (HIDUP), IMIPA (Hidup), Sulut (Terima Kasih), Manado
(Terima Kasih), Tomohon (Terima Kasih), Tondano (Terima Kasih), Tataaran (Terima kasih). Ketika
penjelasan dari Badan Pengurus Pusat IMIPA
Manado, TIM Indenpenden dan motifasi-motifasi dari senioritas, Lalu Berdoa
Bersama anggota-anggota yang ada IMIPA Cabang Tondano Sebelum Menuju Ke Aula
FIS Unima, dan kemudian semuanya menuju
Aula FIS UNIMA.
Lasimnya pertemuan resmi, dihadapan kami
digantungkan Fanflet yang tulisanya “Penandatangan
Kesepakatan Damai. Badan Pengurus Pusat IMPA Manado, beriringan memasuki
Ruangan Aula Fis Unima, semuanya
saling menoleh keherangan dan adapula yang berbisik-bisik “ ini Penipuan”. Lima
menit kemudian iring-iringan muspida Pemprov.Sulut memasuki ruangan Aula FIS
UNIMA. Gubernur Sulut ( Sinyo Harry Sarundajang), Kejaksaan Tinggi Sulut,
Kapolda SuLut, PANGDAM, Ketua DPRD SULUT, Wakil bupati Minahasa, Rektor UNIMA,
Rektor UNSRAT, dan Muspida Prov.Sulut dan Muspida Kabupaten Minahasa, Kecamatan
Tondano Selatan.
Mengawali kegiatan
dimulai dengan Doa Pembuka oleh, Pendeta setempat. Kemudian pembukaan rapat
dimulai. Seakan dipaksakan untuk menyanyikan lagu indonesia raya, mahasiswa
papua pun berdengung hingga akhir dari lagu kebangsaan indonesia tersebut.
Gubernur Provinsi Sulawesi Utara, membuka pertemuan tersebut dengan berbagai
arahan, yang salah satunya adalah “Pertemuan ini akan menghasilkan
penandatanganan perjanjian damai antara masyarakat Pataaran dengan mahasiswa
papua, karena kitorang ba sudara”.
Gubernur pun mempersilahkan Tokoh masyarakat Tataaran untuk menyampaikan
pernyataan mereka. Situasi tiba-tiba teggang pada saat tokoh masyarakat tondano
selatan mebacakan pernyataan sikap mereka, ada beberapa poin diantarannya; 1. Penerangan Lampu Jalan Di Sepanjang Ruas
Jalan Tataaran II Dan Tataaran Patar; 2. Penambahan Polsek Kecamatan Tondano selatan di Tataaran; 3. Melupakan Semua Masa Lalu Dan Warga Siap
Berdamai (Hal Ini Menyinggung Pernah Terjadi Hal Yang Sama 3 Bulan Yang Lalu), 4. Perbaikan Nama Baik Kelurahan Tataaran.
Selain itu kata
gubernur Sulawesi Utara Sinyo Harry Sarundajang (SHS) Bahwa masyarakat di
tondano dan Khususnya Masyarakat Tataaran semuanya baik-baik, jika mereka tidak
baik tentunya tidak ada putra mereka menjadi Gubernuri saat ini, Karena Kenyataannya Saya Jadi “gubernur
sulawesi utara Saat Ini”)
Hasil Laporan Dari Boy P dan P. Lokon
Jumat, 24 Oktober 2014
12.22
Unknown
Home, imipa sulut
No comments

FACEBOOK/SUARA RAKYAT MINAHASA
Mahasiswa
Papua meratapi kepergian rekan mereka yang tewas dalam bentrokan
(kiri). Sementara situasi saat bentrokan warga membawa berbagai senjata
(kanan).
TRIBUNMANADO.CO.ID, TONDANO - Kapolres Minahasa AKBP Ronald Rumondor saat dimintai keterangan menjelaskan kronologi Klik disini bentrokan di Tataaran Minahasa.
Berawal saat pesta syukuran wisuda mahasiswa Papua Unima yang dihadiri
kerukunan mahasiswa papua di asrama Papua di Tataaran Patar.
Dini hari acara selesai, sejumlah mahasiswa turun ke jalan. Pas di bundaran Tataaran, mereka bertemu dengan warga Tataaran. Pemicu cek cok karena warga menegur mahasiswa Papua yang ribut. Terlebih kedua belah pihak telah meneguk minuman keras.
Perkelahian pun tak terkendali, dua kubu saling memanggil warga lainnya. Mahasiswa Papua yang tadinya di asrama turun ke jalan, begitu pun warga lainnya. Mahasiswa yang membabi buta merusak rumah dan mobil warga, memancing amarah warga. Lalu kemudian terjadi saling pukul menggunakan sajam. Korban berjatuhan dari kedua belah pihak, seorang mahasiswa Papua meninggal. "Kami akan terus lakukan pengamanan dan secepatnya masalah ini dituntaskan," ujar AKBP Ronald.
Dini hari acara selesai, sejumlah mahasiswa turun ke jalan. Pas di bundaran Tataaran, mereka bertemu dengan warga Tataaran. Pemicu cek cok karena warga menegur mahasiswa Papua yang ribut. Terlebih kedua belah pihak telah meneguk minuman keras.
Perkelahian pun tak terkendali, dua kubu saling memanggil warga lainnya. Mahasiswa Papua yang tadinya di asrama turun ke jalan, begitu pun warga lainnya. Mahasiswa yang membabi buta merusak rumah dan mobil warga, memancing amarah warga. Lalu kemudian terjadi saling pukul menggunakan sajam. Korban berjatuhan dari kedua belah pihak, seorang mahasiswa Papua meninggal. "Kami akan terus lakukan pengamanan dan secepatnya masalah ini dituntaskan," ujar AKBP Ronald.
03.03
Unknown
Home, imipa sulut
No comments
VERSI: TRIBUNMANADO.CO.ID,MANADO -
Ratusan mahasiswa dari Provinsi Papua yang kuliah di Manado dan sekitarnya melakukan aksi damai di depan Kantor Gubernur Sulut, (21/10). Mereka meminta pemerintah provinsi menyelesaikan persoalan yang ada sehingga proses bermasyarakat berjalan normal.
"Aksi damai ini adalah aksi bisu. Kami minta tidak minta apa-apa kami hanya minta tidak ada diskriminasi bagi kami orang Papua di Manado, Sulawesi Utara. Kami ingin ada perlindungan dari pemerintah supaya semua aman, nyaman dan damai semua. Sebab kami datang untuk menempuh pendidikan di sini," kata Hizkia Maege, Ketua Komite Nasional Papua Barat, Konsulat Indonesia Timur kepada Tribun Manado.
Ada beberapa mahasiswa yang berganti-gantian melakukan orasi. Mereka berulang- ulang meminta agar rekan-rekan mereka di Tondano juga mendapat perlindungan aparat. Begitu juga pengiriman jenazah korban rusuh di Desa Tataaran, Tondano agar difasilitasi aparat polisi dan TNI supaya berjalan dengan baik. "Kami datang ke kantor Pemerintah Sulut, hanya untuk mengutarakan kesedihan kami atas meninggalnya salah satu Mahasiswa Papua dalam konflik di Tataaran. Kami menegaskan kami adalah korban, bukan pelaku sebagaimana yang dikabarkan sejumlah media massa, kami ingin damai karena kami tau masyarakat Sulut dengan masyarakat Papua, Torang Samua Basudara," ujar Permenar Wolom, selaku koordinator aksi lapangan.
Aksi ini juga meminta pemerintah provinsi agar melindungi dan membebaskan ratusan mahasiswa Papua yang masih berada di asrama Papua Kamasan dan Cendrawasi Tondano untuk dibebaskan. "Jangan menahan rekan-rekan kami yang di Asrama Papua Tondano, kami minta mereka dibebaskan," pintanya.
Aksi mereka berlangsung dari pagi start di Malalayang hingga sore. Mereka tak mau bubar dari depan Kantor Gubernur Sulut sebelum ada jaminan kepastian jenazah korban rekan mereka sudah akan dikirimkan kembali ke tanah kelahirannya, Papua.
Akhirnya, sekitar tiga jam menunggu, Gubernur Sulawesi Utara DR Sinyo Harry Sarundajang (SHS) berkenan menanggapi aspirasi mereka. SHS menyatakan akan menjamin keamanan mahasiswa Papua yang ada di Sulawesi Utara. Sarundajang juga meminta kepada mahasiswa papua untuk tetap tenang. "Tidak ada diantara kita yang menghendaki ini terjadi, termasuk saya. kejadian seperti ini bisa terjadi dimana-mana, dan kejadian seperti ini yang harus kita hindari," ujar Sarundajang
Gubernur memohon agar semua mahasiswa Papua di Sulut tetap tenang, karena peristiwa seperti yang terjadi tidak dikehendaki oleh semua pihak, siapapun itu. Gubernur menyampaikan telah melakukan koordinasi dengan unsur Forkopimda yakni Polisi, TNI dan pihak Universitas Manado guna mengantisipasi hal lain yang tidak diinginginkan bersama. Sarundajang juga menghimbau kepada ribuan mahasiswa Papua untuk tidak berhenti kuliah dan kembali ke tempat tinggal masing-masing. Diapun berharap agar para mahasiswa Papua tetap berkuliah dengan baik, tetap belajar di Sulut, belajar budaya yang baik. "Setelah berhasil menimbah ilmu barulah kembali ke tanah Papua dan membangun tanah yang dicintai bersama," kata mantan Gubernur Maluku yang berhasil meredam konflik SARA di Ambon ini.
Sementara itu, upaya damai terus ditempuh berbagai pihak untuk menyelesaikan persoalan antara warga Tataaran II Kecamatan Tondano Selatan dan Mahasiswa Papua tak berlarut-larut. Banyak pihak pula mendukung agar permasalahan tersebut segera dituntaskan.
Dampak pecahnya bentrok kedua kubu tersebut, Minggu (19/10) dini hari itu tak kecil. Pasca peristiwa tersebut, Tataaran yang biasanya merupakan daerah ramai, langsung berubah 180 derajat. Sunyi, sepi, warung-warung makan yang biasanya ramai pengunjung, bahkan tak buka. Lalulintas yang biasanya padat merayap, langsung berubah menjadi kesunyian.
Tak hanya itu, trauma mendalam juga dirasakan para mahasiswa Unima. Kampus sunyi, meski perkuliahan tetap jalan. Jangankan mahasiswa, dosen pun tak menampakkan batang hidungnya di kampus. Kos-kosan yang biasanya telah dipenuhi mahasiswa, sunyi. Bahkan banyak yang masih tinggal di kampung halaman. Kalau pun ada yang tinggal di kos-kosan, mereka tak berani keluar kamar.
Pihak kepolisian dan TNI yang telah bekerja keras sejak awal terus meyakinkan warga, bahwa sebagai aparat keamanan, mereka menjaminkan keamanan di wilayah tersebut. Tak ada penyerangan, tak ada yang dilepas, semua dalam kendali mereka dengan penjagaan super ketat.
"Isu yang macam-macam beredar, padahal pada kenyataan tak demikian. Kami TNI dan Polri melakukan penjagaan berlapis. Mahasiswa Papua minta perlindungan, kami jamin. Juga semua keperluan mereka. Pun demikian dengan warga Tataaran, keamanan dan kenyamanan kami jamin. Sehingga kami minta jangan pernah termakan isu-isu yang memprovokasi," ujar Letkol Teguh Heri Susanto, Dandim 1302 Minahasa.
Dikatakannya, upaya perdamaian pasti ditempuh pihaknya. Hanya saja, mereka masih menunggu waktu yang tepat untuk itu. Menunggu situasi yang sempat memanas, kembali kondusif. "Kita pasti tempuh itu, tapi sampai kondisi kembali dingin. Sebelumnya juga TNI dan Polri, bersama pihak pemerintah telah mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh masyarakat. Bagaimana seharusnya ke depan," jelasnya.
Letkol Teguh pun tak henti-hentinya meminta semua kalangan masyarakat agar tenang. Jangan termakan dengan isu-isu provokasi yang sengaja ingin memperkeruh situasi. "Masyarakat tetap tenang, jangan termakan isu. Kita TNI dan Polri telah bekerja semaksimal mungkin untuk persoalan ini. Kita bisa beri keamanan untuk semua," pintanya.
Senada juga dilakukan oleh pihak Rektorat Unima. Upaya mendamaikan kedua belah pihak terus dilakukan pihaknya. Dan itu pun, tentu bekerjasama dengan pihak-pihak terkait lainnya. "Pak Rektor mengatakan, Rektorat pasti berupaya keras untuk menciptakan situasi damai. Namun itu tentu butuh proses, apalagi dampak dari kisruh tertsebut lumayan besar karena ada korban jiwa," ujar Humas Unima Jonly Tendean.
Menurut instruksi Rektor, kata dia, aktivitas perkuliahan tetap jalan. Soalnya kabar yang beredar bahwa rektoran memberikan libur, itu tak benar. "Pak Rektor menginstruksikan perkuliahan tetap jalan. Apalagi ada beberapa jurusan yang sedang mid semester. Mungkin kalau ada yang bilang libur, itu interen dosen mata kuliah masing-masing," tuturnya.
Niat untuk berdamai pun datang dari mahasiswa Papua. Nico Demus Rembe Ketua Ikatan Mahasiswa Indonesia Papua (IMIPA) Cabang Tondano menuturkan semua mahasiswa Papua mengharapkan kasus tersebut secepatnya selesai, agar suasana kembali harmonis dan kondusif.
Di Share Oleh: P. L
Ratusan mahasiswa dari Provinsi Papua yang kuliah di Manado dan sekitarnya melakukan aksi damai di depan Kantor Gubernur Sulut, (21/10). Mereka meminta pemerintah provinsi menyelesaikan persoalan yang ada sehingga proses bermasyarakat berjalan normal.
"Aksi damai ini adalah aksi bisu. Kami minta tidak minta apa-apa kami hanya minta tidak ada diskriminasi bagi kami orang Papua di Manado, Sulawesi Utara. Kami ingin ada perlindungan dari pemerintah supaya semua aman, nyaman dan damai semua. Sebab kami datang untuk menempuh pendidikan di sini," kata Hizkia Maege, Ketua Komite Nasional Papua Barat, Konsulat Indonesia Timur kepada Tribun Manado.
Ada beberapa mahasiswa yang berganti-gantian melakukan orasi. Mereka berulang- ulang meminta agar rekan-rekan mereka di Tondano juga mendapat perlindungan aparat. Begitu juga pengiriman jenazah korban rusuh di Desa Tataaran, Tondano agar difasilitasi aparat polisi dan TNI supaya berjalan dengan baik. "Kami datang ke kantor Pemerintah Sulut, hanya untuk mengutarakan kesedihan kami atas meninggalnya salah satu Mahasiswa Papua dalam konflik di Tataaran. Kami menegaskan kami adalah korban, bukan pelaku sebagaimana yang dikabarkan sejumlah media massa, kami ingin damai karena kami tau masyarakat Sulut dengan masyarakat Papua, Torang Samua Basudara," ujar Permenar Wolom, selaku koordinator aksi lapangan.
Aksi ini juga meminta pemerintah provinsi agar melindungi dan membebaskan ratusan mahasiswa Papua yang masih berada di asrama Papua Kamasan dan Cendrawasi Tondano untuk dibebaskan. "Jangan menahan rekan-rekan kami yang di Asrama Papua Tondano, kami minta mereka dibebaskan," pintanya.
Aksi mereka berlangsung dari pagi start di Malalayang hingga sore. Mereka tak mau bubar dari depan Kantor Gubernur Sulut sebelum ada jaminan kepastian jenazah korban rekan mereka sudah akan dikirimkan kembali ke tanah kelahirannya, Papua.
Akhirnya, sekitar tiga jam menunggu, Gubernur Sulawesi Utara DR Sinyo Harry Sarundajang (SHS) berkenan menanggapi aspirasi mereka. SHS menyatakan akan menjamin keamanan mahasiswa Papua yang ada di Sulawesi Utara. Sarundajang juga meminta kepada mahasiswa papua untuk tetap tenang. "Tidak ada diantara kita yang menghendaki ini terjadi, termasuk saya. kejadian seperti ini bisa terjadi dimana-mana, dan kejadian seperti ini yang harus kita hindari," ujar Sarundajang
Gubernur memohon agar semua mahasiswa Papua di Sulut tetap tenang, karena peristiwa seperti yang terjadi tidak dikehendaki oleh semua pihak, siapapun itu. Gubernur menyampaikan telah melakukan koordinasi dengan unsur Forkopimda yakni Polisi, TNI dan pihak Universitas Manado guna mengantisipasi hal lain yang tidak diinginginkan bersama. Sarundajang juga menghimbau kepada ribuan mahasiswa Papua untuk tidak berhenti kuliah dan kembali ke tempat tinggal masing-masing. Diapun berharap agar para mahasiswa Papua tetap berkuliah dengan baik, tetap belajar di Sulut, belajar budaya yang baik. "Setelah berhasil menimbah ilmu barulah kembali ke tanah Papua dan membangun tanah yang dicintai bersama," kata mantan Gubernur Maluku yang berhasil meredam konflik SARA di Ambon ini.
Sementara itu, upaya damai terus ditempuh berbagai pihak untuk menyelesaikan persoalan antara warga Tataaran II Kecamatan Tondano Selatan dan Mahasiswa Papua tak berlarut-larut. Banyak pihak pula mendukung agar permasalahan tersebut segera dituntaskan.
Dampak pecahnya bentrok kedua kubu tersebut, Minggu (19/10) dini hari itu tak kecil. Pasca peristiwa tersebut, Tataaran yang biasanya merupakan daerah ramai, langsung berubah 180 derajat. Sunyi, sepi, warung-warung makan yang biasanya ramai pengunjung, bahkan tak buka. Lalulintas yang biasanya padat merayap, langsung berubah menjadi kesunyian.
Tak hanya itu, trauma mendalam juga dirasakan para mahasiswa Unima. Kampus sunyi, meski perkuliahan tetap jalan. Jangankan mahasiswa, dosen pun tak menampakkan batang hidungnya di kampus. Kos-kosan yang biasanya telah dipenuhi mahasiswa, sunyi. Bahkan banyak yang masih tinggal di kampung halaman. Kalau pun ada yang tinggal di kos-kosan, mereka tak berani keluar kamar.
Pihak kepolisian dan TNI yang telah bekerja keras sejak awal terus meyakinkan warga, bahwa sebagai aparat keamanan, mereka menjaminkan keamanan di wilayah tersebut. Tak ada penyerangan, tak ada yang dilepas, semua dalam kendali mereka dengan penjagaan super ketat.
"Isu yang macam-macam beredar, padahal pada kenyataan tak demikian. Kami TNI dan Polri melakukan penjagaan berlapis. Mahasiswa Papua minta perlindungan, kami jamin. Juga semua keperluan mereka. Pun demikian dengan warga Tataaran, keamanan dan kenyamanan kami jamin. Sehingga kami minta jangan pernah termakan isu-isu yang memprovokasi," ujar Letkol Teguh Heri Susanto, Dandim 1302 Minahasa.
Dikatakannya, upaya perdamaian pasti ditempuh pihaknya. Hanya saja, mereka masih menunggu waktu yang tepat untuk itu. Menunggu situasi yang sempat memanas, kembali kondusif. "Kita pasti tempuh itu, tapi sampai kondisi kembali dingin. Sebelumnya juga TNI dan Polri, bersama pihak pemerintah telah mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh masyarakat. Bagaimana seharusnya ke depan," jelasnya.
Letkol Teguh pun tak henti-hentinya meminta semua kalangan masyarakat agar tenang. Jangan termakan dengan isu-isu provokasi yang sengaja ingin memperkeruh situasi. "Masyarakat tetap tenang, jangan termakan isu. Kita TNI dan Polri telah bekerja semaksimal mungkin untuk persoalan ini. Kita bisa beri keamanan untuk semua," pintanya.
Senada juga dilakukan oleh pihak Rektorat Unima. Upaya mendamaikan kedua belah pihak terus dilakukan pihaknya. Dan itu pun, tentu bekerjasama dengan pihak-pihak terkait lainnya. "Pak Rektor mengatakan, Rektorat pasti berupaya keras untuk menciptakan situasi damai. Namun itu tentu butuh proses, apalagi dampak dari kisruh tertsebut lumayan besar karena ada korban jiwa," ujar Humas Unima Jonly Tendean.
Menurut instruksi Rektor, kata dia, aktivitas perkuliahan tetap jalan. Soalnya kabar yang beredar bahwa rektoran memberikan libur, itu tak benar. "Pak Rektor menginstruksikan perkuliahan tetap jalan. Apalagi ada beberapa jurusan yang sedang mid semester. Mungkin kalau ada yang bilang libur, itu interen dosen mata kuliah masing-masing," tuturnya.
Niat untuk berdamai pun datang dari mahasiswa Papua. Nico Demus Rembe Ketua Ikatan Mahasiswa Indonesia Papua (IMIPA) Cabang Tondano menuturkan semua mahasiswa Papua mengharapkan kasus tersebut secepatnya selesai, agar suasana kembali harmonis dan kondusif.
Di Share Oleh: P. L
Rabu, 22 Oktober 2014
21.29
Unknown
Home, imipa sulut
No comments
Rasa duka dan Terharu, Menunggu Kedatangan Jenasah dari Rumah sakit RSUD Malalyang SULUT
Tampak Karangan bunga dan Ucapan Turut Berduka Cita dari Keluarga dan Teman-Teman Kampus Alm. Petius Tabuni
Tampak Bantuan dari POLDA Sulut
Langganan:
Komentar (Atom)





























